Dr Chatarina S Keraf SpPD FINASCIM

Vaksin Hepatitis B Tidak Sembarangan Diberikan

Masyarakat harus memahami apa itu Hepatitis B, bagaimana penyebarannya, cara pengobatan, pencegahan dan lainnya.

Vaksin Hepatitis B Tidak Sembarangan Diberikan
ist
dr. Catharina PS Keraf, SpPD, FINASIM

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Menurut Riskesdas 2013, NTT menduduki peringkat pertama sebagai provinsi dng jumlah penderita Hepatitis B tertinggi di Indonesia. Kabupaten Sabu Raijua sebagai kabupaten dengan penderita tertinggi di NTT. Keadaan ini merupakan hal yang sangat memprihatinkan. Tahun 2017 kemarin dicanangkan oleh pusat sebagai Tahun Eliminasi Hepatitis B.

"Kita harus waspada karena Hepatitis B ternyata 100x lebih ganas daripada HIV AIDS. Penderita kronik Hepatitis B mempunyai masa depan untuk dapat saja menderita kanker hati di kemudian hari," kata Dr. Chatarina S Keraf SpPD FINASCIM.

Terlepas dari semua itu, pihak tenaga kesehatan tentunya berharap agar pemberian vaksin Hepatitis B juga segera dilakukan secara menyeluruh terhadap masyarakat kita. Tetapi masyarakat tentunya harus melakukan konsultasi terlebih dahulu mengenai pemberian Vaksin Hepatitis B, agar memahami apa itu Hepatitis B, bagaimana penyebarannya, bagaimana cara pengobatan, pencegahan, apa gunanya vaksinasi, kapan vaksinasi diberikan dan seterusnya.

Sebaliknya, tenaga kesehatan pun harus mau dan mampu memberikan informasi dan edukasi yang baik dan tepat agar masyarakat mengerti kapan bisa menerima pemberian vaksin Hepatitis B. Hal ini karena vaksin tersebut tidak dapat diberikan begitu saja secara sembarangan tanpa tahap-tahap pemeriksaan tertentu.

Misalnya, untuk pasien dengan hasil laboratorium positif Hepatitis B tentunya tidak boleh di vaksinasi. Pasien yang sudah pernah menderita hepatitis B juga harus diperiksa, apakah imunitas tubuhnya terhadap Hepatitis B sudah terbentuk atau belum. Bila sudah terbentuk maka vaksinasi tentunya tidak perlu dilakukan. Pada individu yang tidak atau belum pernah terkena hepatitis B, wajib diperiksa pula kekebalan tubuh terhadap Hepatitis B. Bila belum ada, barulah diberikan vaksinasi.

Vaksinasi hepatitis B untuk usia remaja dan dewasa umumnya berlangsung sampai 5 tahun. Bila pemberian vaksinasi telah lewat dari 5 tahun, tentu perlu dievaluasi kembali sistem kekebalan tubuh individu tersebut. Selain itu, bila seseorang sedang sakit, maka pemberian vaksinasi Hepatitis B harus ditunda hingga yang bersangkutan sehat kembali.

Sebaiknya masyarakat kita memang kita didik untuk mengerti tentang hepatitis B hingga sekecil-kecilnya, hingga program eliminasi ini bisa berjalan dengan sangat baik. **

Penulis: Sipri Seko
Editor: Sipri Seko
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help