Demi Sesuap Nasi, Para Pemulung Ini Tidak Jijik Dengan Kotoran Sampah

Ini pengakuan para pemulung di tempat pembuangan akhir sampah di Kabupaten TTU, Kefamenanu

Demi Sesuap Nasi, Para Pemulung Ini Tidak Jijik Dengan Kotoran Sampah
Pos Kupang/Teni Jenahas
Yasinta Neihelik dan Yur Poli saat memilih sampah di lokasi pembuangan sampah di Desa Tublopo, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten TTU, Rabu (24/1/2018) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Teni Jenahas

POS-KUPANG.COM | KEFAMENANU - Yasinta Neihelik dan Yur Poli warga RT 01, Desa Tublopo, Kecamatan Bikomi Selatan Kabupaten TTU menjalani aktivitas hariannya dengan mengumpul sampah botol dan gelas air meneral serta kaleng bekas di lokasi pembuangan sampah.

Yansinta dan Poli mengaku tidak jijik dengan kotoran sampah yang menumpuk di lokasi TPA. Meski bau sampah menyengat ke hidung, Yasinta dan Poli merasa biasa-biasa saja.

Disaksikan Pos Kupang, Rabu (24/1/2018), Yasinta dan saudara sepupunya Yur Poli sedang mengumpulkan botol, gelas dan kaleng di tempat pembuangan sampah yang berlokasi Tupat, Desa Tublopo.

Keduanya membongkar tumpukan sampah yang baru diturunkan dari mobil sampah lalu memilah sampah tersebut. Mereka hanya memilih botol dan gelas air mineral serta kaleng bekas.

Mereka mengumpulkan sampah tidak menggunakan sarung tangan dan masker.

"Kita tidak jijik dengan kotoran. Sampah yang kami pilih ini untuk cari uang," kata Yasinta diamini saudaranya Yur Poli saat ditemui Pos Kupang.

Menurut Yansinta ia bersama saudaranya Yur Poli mengumpulkan sampah jenis botol dan gelas air meneral serta dan kaleng.

Yang mengumpulkan sampah di lokasi TPA itu hanya mereka berdua. Tempat tinggal mereka juga dekat dengan TPA.

Menurut Yasinta, sampah yang terkumpul itu akan dijual dengan harga Rp 5.000 per kilogram untuk sampah botol, gelas air mineral Rp 10.000 per kilogram dan kaleng bekas Rp 10.000 per kilogram.

Menurut Yasinta dan Poli, setiap hari mereka kerja mengumpulkan sampah mulai hari Senin-Jumat

Mereka tidak kerja pada hari Sabtu dan Minggu karena pada hari itu, mobil sampah tidak beroperasi. Mereka mulai memilah sampah setelah mobil sampah mendroping sampah ke TPA.

Dalam satu minggu, mereka menjual sampah botol dan gelas air mencapai 3-4 karung. Total penerimaan tiap minggu mencapai Rp 400-Rp 600.000. Dalam sebulan, mereka menjual sampai empat kali. Pendapatan dari hasil jual sampah mereka manfaat untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga.

Menurut Yasinta, saat memilah sampah di TPA, kadang-kadang mereka menemukan uang, barang perhiasan dan handphone. Yang sering mereka dapat adalah uang yang biasanya terselit di buku-buku atau kertas. (*)

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Marsel Ali
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help