Ketergantungan pada Beras

Tapi ternyata aneka ragam bahan makanan ini tidak bisa menggeser dominasi beras. 'Politik beras' di masa lalu rupanya

Ketergantungan pada Beras
POS KUPANG/DION KOTA
ilustrasi 

POS KUPANG.COM -- Teringat sebuah pertanyaan kala masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Apa makanan pokok masyarakat Indonesia? Jawaban dari pertanyaan guru tersebut adalah beras. Hingga kini jawaban itu tetap sama. Belum berubah.

Apakah jawaban ini benar? Padahal sebelum beras diciptakan sedemikian rupa seolah menjadi bahan makanan utama di negeri ini, masyarakat kita sudah mengenal pisang, jagung, ubi, sorghum, buah-buahan dan kacang-kacangan lain yang dikonsumsi sebagai makanan pokok sehari-hari.

Tapi ternyata aneka ragam bahan makanan ini tidak bisa menggeser dominasi beras. 'Politik beras' di masa lalu rupanya sudah sangat mengakar dalam masyarakat kita.

Kebutuhan beras sebagai makanan pokok makin tinggi. Bahkan pemerintah mendirikan lembaga khusus yakni Badan Urusan Logistik (Bulog) yang spesial menyediakan beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ketika beras hilang atau mahal di pasaran, Bulog melakukan operasi pasar, menyediakan beras murah bagi masyarakat.

Saat ini harga beras sedang melonjak tinggi. Masyarakat mengeluh tentang kenaikan harga beras.

Program beras sejahtera (rastra) yang dilakukan pemerintah ternyata belum cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Masyarakat masih harus membeli di pasar. Tak heran ketika harga naik, masyarakat pun mengeluh.

Apa yang mesti dilakukan? Apakah pemerintah perlu menambah jatah beras sejahtera? Ataukah melakukan operasi pasar untuk menekan harga?

Berbagai alasan dikemukakan terkait mahalnya harga beras. Cuaca misalnya, menjadi salah satu penyebab sehingga beras dari luar tidak bisa tiba tepat waktu.

Lalu apa kita mesti terus tergantung dengan pasokan beras dari luar? Padahal kita punya lumbung pangan di Manggarai, Nagekeo, TTS, Malaka dan daerah lainnya.

Kita juga punya ketersediaan bahan makanan seperti pisang, jagung, ubi, sorghum, buah-buahan dan kacang-kacangan yang stoknya sangat banyak.

Sebenarnya ini menjadi tugas siapa untuk memberitahu dan terus mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa kita tidak kekurangan bahan makanan. Lidah kita saja yang belum terbiasa mengecap makanan lokal dan bahkan masih berpendapat, meski sudah kenyang, namun kalau belum ada nasi, kita seolah belum makan.

Terlepas dari kondisi ini, intervensi pemerintah perlu diperhatikan. Ketika beras masih menjadi makanan utama, harga tetap harus bisa dikendalikan.

Dengan daya beli masyarakat yang rendah, sementara kebutuhan hidup terus menunggu, masyarakat akan terus mengeluh dan berteriak saat harga naik, meski persentasinya tak seberapa.

Semoga kondisi ini bisa segera teratasi. Kepada masyarakat NTT kita terus mengajak untuk secara perlahan mengurangi ketergantungan pada beras karena makanan pokok kita sejatinya bukan itu. *

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved