Mengaku Wartawan KPK, AS Minta Uang di Aparat Desa Motaain

Ini satu modus penipuan yang sengaja mengancam aparat desa. Ini penjelasan kepala desa

Mengaku Wartawan KPK, AS Minta Uang di Aparat Desa Motaain
Pos Kupang/Dion Kota
Kades Motaain, Salomon Leki 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dion Kota

POS-KUPANG.COM | BETUN - AS, oknum yang mengaku sebagai wartawan KPK meminta uang senilai Rp 500.000 kepada aparat Desa Motaain, Kecamatan Malaka Barat.

Karena tidak diberi, AS mengancam akan datang bersama pimpinan KPK ke desa Motaain untuk menyelidiki penggunaan dana desa.

Hal ini diungkapkan kepala Desa Motaain, Salomon Leki kepada Pos Kupang, Kamis ( 18/1/2018) pagi di kediamannya.

Salomon mengisahkan, kedatangan AS ke kantornya pada Senin (15/1/2018) diterima staf kantor desa karena ia tidak berada di kantor.

AS mengaku sebagai wartawan KPK dan hendak menyelidiki penggunaan dana desa. Usai berbincang-bincang, AS meminta uang senilai Rp 500.000 kepada staf desa, namun tidak diberi dengan alasan bendahara tidak masuk.

" Dia (AS, red) datang tanya-tanya soal program di desa. Usai berbincang, dia minta uang ke staf saya, tetapi staf tidak kasih dengan alasan bendahara sedang sakit. Karena tidak diberikan uang, AS meminta nomor HP saya di staf, tetapi staf saya juga tidak mau kasih karena tidak yakin kalau orang tersebut dari KPK," ungkap Salomon.

Karena belum bertemu dengan Kepala desa, lanjut Salomon, keesokan harinya AS kembali mendatangi kantor desa Motaain dan bertemu dengannya.

Salomon sempat mempersilakan AS untuk masuk ke dalam kantor desa, namun AS menolaknya. Karena AS enggan masuk, Salomon terpaksa menerima AS di depan pintu masuk kantor desa.

As mempertanyakan kenapa sampai saat ini program rehab rumah di desa Motaain belum juga rampung. Ia bahkan mengancam akan datang kembali bersama pimpinan KPK.

" Dia tanya soal pengerjaan rehab rumah yang belum selesai, lalu saya jelaskan kalau uang tahap II dana desa baru cair di tanggal 22 Desember. Jadi awal tahun ini baru lanjut pengerjaannya. Saya juga mempersilakan AS untuk membawa pimpinan KPK ke desa Motaain untuk menyelidiki penggunaan dana desa. Tetapi hingga saat ini AS tidak datang lagi," ujarnya.

Ketika disinggung terkait ciri-ciri AS, Salomon mengatakan, AS memiliki kulit hitam dan pendek. AS menggunakan kemeja berwarna putih yang bercampur sedikit warna merah. AS juga menggunakan bross yang dipasang di baju kemejanya.

Dirinya mengaku enggan melaporkan hal tersebut kepada pihak kepolisian dan memilih untuk menunggu apakah AS akan kembali atau tidak.

"Saya mau lihat datang kembali atau tidak. Saya sudah undang dia ke rumah saja, tetapi dia juga tidak datang. Saya pribadi tidak merasa takut karena saya menggunakan uang sudah sesuai aturan," tegasnya. (*)

Penulis: Dion Kota
Editor: Marsel Ali
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help