Korupsi dan Momentum Pilkada di NTT

Berkaca pada kaleidoskop tahun-tahun terakhir ini, yang diwarnai oleh begitu banyak malpraktik kekuasaan

Korupsi dan Momentum Pilkada di NTT
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
ilustrasi 

Oleh: Anno Susabun
Anggota Centro John Paul II Ritapiret

POS KUPANG.COM -- Kita memasuki tahun politik ketika pada medio 2018 akan diselenggarakan pilkada serentak di 171 daerah (17 provinsi dan 154 kabupaten/kota). Di NTT, akan ada perebutan kursi gubernur dan bupati di beberapa kabupaten.

Berkaca pada kaleidoskop tahun-tahun terakhir ini, yang diwarnai oleh begitu banyak malpraktik kekuasaan pemerintah daerah, terutama kompleksitas sindikalisme koruptor, kita tentu tidak ingin melewati begitu saja tahun politik (yang bertepatan dengan ulang tahun ke-20 reformasi) yang sangat menentukan ini.

Korupsi menjadi persoalan paling biasa, malpraktik kekuasaan paling marak dilakukan penguasa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sadisnya lagi, koruptor NTT seperti sudah membangun poros budayanya sendiri dalam kerangkeng sindikat koruptor yang tidak terlalu sulit dilacak.

Membaca kasus Pantai Pede, misalnya, kita dapat dengan gampang menemukan adanya permainan pengusaha yang menghidupi penguasa dan penguasa yang menggaransi stempel legalitas privatisasi ruang publik.

Selain itu ada juga sindikat koruptor dalam skala yang lebih kecil, kontraktor pembangunan jalan, misalnya, mengerjakan aspal asal jadi sehingga uang proyek lebih banyak dijatahkan untuk kepentingannya. Di Manggarai Timur, kerjasama pemerintah dengan kontraktor menghasilkan jalan aspal yang amburadul di mana-mana.

Beberapa ruas jalan yang diaspalisasi menggunakan dana umum dan dikerjakan oleh kontraktor atas kontrak dengan pemerintah rusak beberapa minggu pasca pengerjaan (bdk. lapen jalur Benteng Jawa-Dampek rusak dua minggu setelah dikerjakan, voxntt.com, 13/10/2017).

Peringatan Jeffrey Winters memang tepat, bahwa konglomerasi mengandung para oligark yang berkepentingan dan memanfaatkan kawasan politik untuk mempertahankan kekayaannya (wealth defense).

Bergerak seperti virus yang menyebar secepat kilat di kalangan pejabat sekaligus berdomino pelan tapi pasti bagi kemelaratan masyarakat, korupsi di NTT sudah merambah pada persoalan ideologis.

Ideologi politik dan ekonomi bangsa yang pada galibnya mengabdi pada kepentingan umum dipreteli oleh sindikat koruptor menjadi berorientasi pribadi atau golongannya.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help