Kades Bone Tasea Dipolisikan Gara-Gara Kasus Ini

Tidak patut ditiru perilaku Salah seorang oknum Kepala esa di Kabupaten Malaka ini

Kades Bone Tasea Dipolisikan Gara-Gara Kasus Ini
Pos Kupang/Dion Kota
Korban kasus pemukulan yang dilakukan oknum kepala desa lapor polisi 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dion Kota

POS-KUPANG.COM | BETUN - Kepala Desa Bone Tasea, Kecamatan Weliman, Edmundus Nahak dipolisikan anggota Panwascam Weliman, Adrianus Manek karena melakukan penganiayaan.

Edmundus dilaporkan usai memukul Adrianus menggunakan kursi plastik yang mengenai bagian siku tangan korban.

Adrianus yang ditemui Pos Kupang, Jumat ( 12/1/2018) di Polsek Weliman mengatakan, kasus penganiayaan tersebut bermula dari adanya informasi pengumuman akhir seleksi PPL yang diterima Kades Edmundus yang menyatakan peserta dari Desa Bone Tasea, Kristina Hoar dinyatakan tidak lulus.

Mendengar informasi tersebut, Kades Edmundus langsung menelpon korban dan marah-marah. Tak puas memarahi korban melalui telepon seluler, Kades Edmundus lantas mendatangi kantor panwascam Weliman dan menganiaya korban.

"Pak desa datang, parkir motor lalu masuk dalam kantor panwascam langsung marah-marah saya. Tidak puas marah-marah, pak desa langsung angkat kursi plastik dan memelemparnya ke arah saya dan mengenai bagian siku tangan saya," tutur Adrianus.

Barang bukti kursi plastik yang dipakai pelaku saat melempar korban
Barang bukti kursi plastik yang dipakai pelaku saat melempar korban (Pos Kupang/Dion Kota)

Sementara itu, ketua Panwaslu kabupaten Malaka, Petrus Nahak Manek yang ikut mendampingi korban mengaku sangat prihatin dengan arogansi yang ditunjukan kepala Desa Bone Tasea.

Ia mengaku sudah melakukan koordinasi dengan pihak Bawaslu Propinsi NTT terkait kasus penganiayaan anggota Panwascam Weliman tersebut.

Karena hal ini sudah menyangkut nama baik lembaga, maka pihak Bawaslu NTT meminta agar hal tersebut diproses sesuai aturan hukum yang berlaku.

"Kkami ini lembaga independen. Tidak boleh ada intervensi dari pihak mana pun dalam tahapan perekrutan PPL termaksud dari kepala desa. Saya pribadi sangat prihatin dengan prilaku kepala desa yang melakukan intervensi agar peserta dari Desa Bone Tasea diluluskan bahkan sampai melakukan penganiayaan kepada anggota kami. Oleh sebab itu untuk memberikan efek jerah kami minta diproses hukum," ujarnya dengan nada tinggi.

Pantauan Pos Kupang, nampak Adrianus Manek datang ke Kantor Polsek Weliman didampingi para komisioner Panwaslu Kabupaten Malaka.

Kursi yang digunakan untuk memukul korban pun terlihat dibawa ke Polsek Weliman sebagai barang bukti.

Usai membuat laporan, Adrianus bersama anggota Polsek Weliman langsung menuju RSPP Betun untuk melakukan visum.

Usai melakukan visum Adrianus kembali ke Polsek Weliman untuk membuat laporan polisi terkait kasus dugaan penganiayaan yang dialaminya. (*)

Penulis: Dion Kota
Editor: Marsel Ali
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help