Wow! Paguyuban Bakalikat Maumere Sumba Timur Rayakan Pesta Perak

Ini yang dikatakan Uskup Weetabula dalam perayaan 25 tahun berdirinya ikatan keluarga Maumere di Waingapu

Wow! Paguyuban Bakalikat Maumere Sumba Timur Rayakan Pesta Perak
Pos Kupang/Robert Ropo
Uskup Weetabula sedang memotong tumpeng pada perayaan pesta perak paguyuban Bakalikat. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo

POS-KUPAMG.COM | WAINGAPU - Paguyuban Bakalikat Maumere Sikka di Sumba Timur merayakan pesta perak 25 tahun berdirinya peguyupan tersebut, Jumat (5/1/2018) malam.

Pada perayaan pesta perak berdirinya paguyuban Bakalikat itu keluarga menyelenggarakan misa syukur yang dipimpin Uskup Weetabula, Mgr. Dr. Edmund Woga, CSsR.

Hadir dalam perayaan pesta perak tersebut, Pastor Paroki Kambajawa Rm. Yakobus Lodo Mema, Pr, Pelindung Paguyuban Bakalikat Pater Dandy Bastian, CSsR, dan semua paguyuban dari sejumlah daerah yang ada di Waingapu, Sumba Timur.

Uskup Edmund dalam misa tersebut meminta kepada paguyuban Bakalikat Maumere agar mengikuti teladan Yesus Kristus, dimana keluarga Bakalikat harus suka melayani, membantu dan menolong orang lain atau sesama.

Bukan hanya paguyuban Bakalikat saja tetapi juga bagi semua paguyuban yang ada di Waingapu.

Menurut Uskup Edmund, menampilkan budaya Sikka dalam paguyuban Bakalikat tidak boleh lepas dari bahasa daerah sendiri.

Sebab sekarang bahasa daerah sudah mulai hilang, sehingga penting juga untuk belajar bahasa daerah sendiri bahkan harus tahu bahasa daerah secara mendalam.

Uskup Edmund juga meminta kepada paguyuban Bakalikat agar mendirikan sebuah paguyuban tentu harus berpegang pada teladan yang baik.

Uskup Edmund juga menyampaikan ucapan terima kasih karena keluarga Bakalikat mengikutsertakan perayaan 40 tahun imamatnya dan 8 tahun ditabhis menjadi uskup bagi beliau pada perayaan pesta perak tersebut.

Salah satu tokoh pencetus berdirinya Paguyuban Bakalikat Sumba Timur, Agus S. Batta dalam sambutannya pada pesta perak tersebut menjelaskan, berdirinya paguyuban Bakalikat di tanah Matawai Amahu Pada Njara Hamu tersebut yang diprakarsai oleh dirinya dan  Moat Frans Dindus pada tanggal 12 Desember 1992 saat itu juga bertepatan dengan gempa bumi tektonik yang meporakporandakan Maumere dan sekitarnya.

Uskup Wetabula makan nasi tumpeng pada perayaan pesta perak peguyupan Bakalikat
Uskup Weetabula makan nasi tumpeng pada perayaan pesta perak paguyuban Bakalikat (Pos Kupang/Robert Ropo)

"Kami memprakarsai Bakalikat ini saat kami dua bako wolang (duduk bercerita sambil makan minum). Kami ambil nama ini dari sejuta nama,"kata Agus.

Agus juga menjelaskan, maksud dan tujan berdirinya Bakalikat tersebut, menghimpun sesama etnis Sikka yang menetap dan berkarya di Sumba Timur.

Selain itu, menjalankan kebersamaan dalam suka maupun duka untuk memperat tali persaudaraan. Wadah untuk mendapatkan tentang Sikka dan sarana bernostalgia ala Sikka.

Berpastisipasi aktif dalam kegiatan kemasyarakatan di Sumba Timur dan menjaga dan melestarikan budaya Sikka secara khusus meneruskan ke generasi penerus di Sumba Timur. (*)

Penulis: Robert Ropo
Editor: Marsel Ali
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help