Menanti Kerja Polisi Terkait Sampah Medis di Kota Kupang

Berbagai temuan didiskusikan. Ada saran, usul dan rekomendasi serta tawaran solusi. Tercatat 11 rumah sakit

Menanti Kerja Polisi Terkait Sampah Medis di Kota Kupang
POS KUPANG/OBY LEWANMERU
Kepala Perwakilan Ombudsman NTT, Darius Beda Daton,S.H, saat mendatangi lokasi yang menjadi tempat pembuangan sampah medis di kompleks Rumah Sakit (RS) SK Lerikdi RS Kota SK Lerik 

POS KUPANG.COM -- Selama dua bulan terakhir, persoalan limbah medis menjadi perhatian masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya di Kota Kupang ini.

Berbagai temuan didiskusikan. Ada saran, usul dan rekomendasi serta tawaran solusi. Tercatat 11 rumah sakit di Kota Kupang yang tidak memiliki alat pengolahan limbah sampah medis (insinerator) yang memenuhi syarat.

Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTT mengeluarkan beberapa rekomendasi tentang pengolahan sampah medis. Tujuan rekomendasi yang ditandatangani Gubernur NTT, Frans Lebu Raya itu agar sampah medis dikelola dengan baik yang hasil akhirnya masyarakat terbebas dari berbagai bahaya penyakit yang berasal dari sampah medis itu.

Namun, rupanya rekomendasi itu tak manjur. Pertemuan antara Dinas Lingkungan Hidup dengan pihak terkait belum menuai hasil yang diharapkan. Tiga hari lalu sampah medis ditemukan aparat kepolisian di belakang RSU SK Lerik Kupang. Ada bekas botol infus, jarum suntik, kemasan obat, kain kasa dan sebagainya.

Apakah sampah ini termasuk sampah medis B3? Siapakah yang membuang sampah-sampah ini. Apakah pihak rumah sakit, oknum yang iseng ataukah pemulung yang sama sekali tidak paham bahayanya?

Kalau masyarakat biasa, dari mana dia mendapatkan botol infus, jarum suntik dan peralatan medis lainnya itu? Untuk apa mereka menggunakan alat medis ini?

Apakah masyarakat umum boleh menggunakan peralatan medis secara bebas? Ataukah sampah medis ini dibuang oleh oknum tertentu di rumah sakit? Kalau ini yang terjadi, sangatlah disayangkan.

Berarti selama ini rekomendasi yang dikeluarkan Dinas Lingkungan Hidup tidak ada pengaruhnya. Sudah menjadi kebiasaan kita membuang sampah di sembarangan tempat. Tak peduli apa efeknya, bahaya dan risiko bagi diri sendiri dan orang lain.

Apapun alasannya, kasus seperti ini tak bisa didiamkan. Harus ada tindak lanjut. Mesti ada yang bertanggungjawab. Harus ada efek jera, sehingga tidak terulang lagi.

Entah sudah ada atau belum ada korban, temuan adanya sampah medis oleh kepolisian menunjukan bahwa apa yang selama ini direkomedasikan oleh Dinas Lingkungan Hidup benar adanya.

Apa yang mesti dilakukan sekarang? Apa pemerintah harus membiarkan kondisi seperti ini terus berlanjut ataukah harus diakhiri.

Mungkin kasus seperti ini tidak saja ada di belakang gedung RS SK Lerik tapi di rumah sakit lain, klinik lain atau bahkan di dekat apotek dan tempat dokter praktik.

Bukan hanya di Kupang tetapi di berbagai kota di NTT. Kita menunggu hasil kerja aparat kepolisian.

Tugas poliri mengungkap tuntas masalah ini kita dukung penuh karena membuang sampah medis di sembarang tempat tidak bisa dibiarkan begitu saja. Harus ada tindak lanjut. Siapa yang buang harus bertanggungjawab atas perbuatannya. *

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help