Deskriptif dan Preskriptif Mahar Politik

Dalam kajian keislaman, mahar itu sebagai pemberian sakral dan penuh ketekunan dan ketulusan sebagai bukti janji suci.

Deskriptif dan Preskriptif Mahar Politik
ilustrasi

Oleh: Muhammad Husen Db
Dosen dan Wasekjen Kornas Fokal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

POS KUPANG.COM - Mahar itu berawal dari istilah fiqih, yang mengacu kepada pemberian wajib dari calon suami terhadap calon istri. Hanya pada politik populer Indonesia banyak yang menggunakan bahasa itu sebagai wacana publik.

Dalam kajian keislaman, mahar itu sebagai pemberian sakral dan penuh ketekunan dan ketulusan sebagai bukti janji suci. Hanya pada percaturan politik Indonesia, mahar menjadi sebuah kata yang justru menjadi negatif dan jauh dari makna sakral sesungguhnya.

Pada peta percaturan politik, mahar menjadi sebuah kesepakatan dan deal politik yang cenderung sebagai prosesi jual beli suara dan dukungan partai terhadap calon.

Harusnya kata ini menjadi itikad baik untuk menjadikan orang sebagai calon pemimpin sebagaimana pemimpin yang diharapkan rakyatnya. Penyelewengan makna menjadi sebuah keburukan bagi bangsa dalam menjamin lahirnya pemimpin ideal yang diharapkan.

Pada konteks mahar yang sesungguhnya yang diberikan calon suami terhadap istri adalah sebuah kesepakatan yang tidak memberatkan. Hal negatif yang cenderung terpakai dalam politik Indonesia dalam menerjemahkan kata mahar menjadi negatif ketika mahar sebagai syarat jual beli suara.

Hal ini sebagai penyimpangan demokrasi yang tentu menjadi sejarah buruk bagi bangsa. Maka, sebuah penyimpangan demokrasi ketika mahar itu dijadikan dagelan politik tanpa bukti.

Mahar sebagai praktik politik akhirnya melahirkan kompetisi yang menyimpang. Mengawali kompetisi yang penuh dengan dagelan dan terkesan menjadi horor bahkan kelam bagi anak bangsa.

Ketika mahar suci sebagai calon suami itu sebuah kewajiban tentu harusnya bisa diterjemahkan secara baik dan bijaksana untuk mewujudkan rumahtangga yang penuh dengan tanggungjawab dan kasih sayang.

Ketika mahar menjadi dagelan politik, maka tentu perilaku, janji dan sikap tulus juga akan menjadi ilusi dan hampa. Mahar bendawi yang diterima oleh calon istri sebagai hak dan milik bagi sang istri.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved