Merawat Spirit Gemohing, Warga Waimana Ramai-ramai Bangun Rumah Bartolomeus Yadi

Meski tidak dalam semua aktivitas masyarakat, Gemohing masih ditemukan dalam kegiatan pertanian masyarakat.

Merawat Spirit Gemohing, Warga Waimana Ramai-ramai Bangun Rumah Bartolomeus Yadi
POS KUPANG/FELIX JANGGU
Masyarakat Waimana Kecamatan Ilemandiri Flotim ramai-ramai bangun fondasi kediaman Bapak Bartolomeus Yadi, Rabu (3/1/2018). 

Laporan Wartawan Pos Kupang.com, Feliks Janggu

POS-KUPANG.COM|LARANTUKA - Tradisi Gemohing (Gotong Royong) masih lestari di tengah masyarakat Lamaholot Flores Timur.

Meski tidak dalam semua aktivitas masyarakat, Gemohing masih ditemukan dalam kegiatan pertanian masyarakat.

Yang paling kental terlihat saat membangun rumah tinggal bagi penduduk. Seluruh warga kampung terlibat membantu membangun rumah itu.

Hal itu terlihat pada masyarakat Kampung Waimana, Desa Watotutu, Kecamatan Ilemandiri, Rabu (3/1/2018).

Masyarakat Waimana Kecamatan Ilemandiri Flotim ramai-ramai bangun fondasi kediaman Bapak Bartolomeus Yadi, Rabu (3/1/2018).
Masyarakat Waimana Kecamatan Ilemandiri Flotim ramai-ramai bangun fondasi kediaman Bapak Bartolomeus Yadi, Rabu (3/1/2018). (POS KUPANG/FELIX JANGGU)

Masyarakat kampung kompak hadir membangun fondasi rumah kediaman bapak Bartolomeus Yadi di RT.10 Waimana Watotutu.

"Ini menjadi tradisi di kampung kami. Kami selalu kompak mendukung membangun rumah. Biasanya untuk fondasi dan atap. Yang lainnya diserahkan kepada tukang," kata Once, warga yang ikut membangun rumah itu.

Ia menceritakan Gemohing sangat membantu mengurangi biaya pembangunan rumah. Jika semua menggunakan jasa tukang, pemilik rumah akan mengeluarkan biaya besar.

Jelas Once, tradisi Gemohing tampak jelas pada moment pembangunan rumah.

"Dulu Gemohing juga ada saat buka kebun dan panen. Tapi saat ini bersih kebun dan panen dilakukan oleh kelompok saja," kata Once.

Gemohing, kata Once, lestari hanya jika masyarakat tetap merawat kebersamaan, kesatuaan dan kepedulian dengan masyarakat lainnya.

Jika semangat itu tidak dirawat, kata Once, bukan tidak mungkin di masa depan Gemohing akan hilang.

"Saat semua orang hanya berpikir untuk diri sendiri, maka tradisi Gemohing pasti akan tergerus," kata Once.

Ia bersyukur karena Gemohing masih terawat di Waimana, terutama untuk urusan membuat rumah.

"Buat rumah saat ini membutuhkan modal yang besar. Jika tidak karena Gemohing, masyarakat desa akan sulit membiayai pembuatan rumah yang layak huni," katanya lagi. (*)

Penulis: Felix Janggu
Editor: Agustinus Sape
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved