Pesan Natal dan Politik Persahabatan

Namun lebih dari pada itu, perayaan Natal kali ini turut diselimuti kabut tebal politik, sebab rakyat di beberapa

Pesan Natal dan Politik Persahabatan
ilustrasi

Oleh: Ichan Pryatno
Tinggal di Ritapiret Maumere

POS KUPANG.COM- Pada penghujung tahun ini, gereja sejagat merayakan Natal sebagai peringatan akan Kelahiran Yesus. Jelas Perayaan Natal juga bukan menjadi sesuatu yang baru.

Namun lebih dari pada itu, perayaan Natal kali ini turut diselimuti kabut tebal politik, sebab rakyat di beberapa daerah seperti di NTT, akan memasuki `tahun politik'. Maka dari itu, Natal perlu dimaknai lebih intens agar mampu menyumbangan sesuatu yang bernas bagi perhelatan pesta demokrasi NTT nantinya.

Untuk itu, tulisan ini hendak melihat hubungan antara Perayaan Natal dengan momentum pesta demokrasi NTT. Setidaknya momentum perayaan Natal kali ini turut menelorkan pesan reflektif bagi gebyar pesta demokrasi NTT.

Persahabatan Allah dan Manusia

Dalam tradisi Kristen, Natal berarti peristiwa Inkarnasi Allah menjadi manusia. Inkarnasi dalam konteks Natal berarti Allah datang menyelamatkan umat-Nya.

Inkarnasi Allah dalam diri Yesus Kristus merupakan aksi bebas dari Allah yang berangkat dari keprihatinan-Nya atas nasib manusia ciptaan-Nya (Regus, 2004:165).

Lebih lanjut lagi, Rasul Paulus dalam Suratnya kepada Jemaat di Filipi turut melukiskan secara gamblang terkait `Sang Mesias' itu. Bahwa "Dia adalah Putra Allah yang tidak mempertahankan keilahian-Nya, tetapi rela mengosongkan diri-Nya dan menjadi manusia" (Flp. 2: 6-7).

Lebih jauh, hemat penulis, Natal mesti menggumpalkan satu makna substansial yaitu persahabatan.

Natal merupakan simbolisasi dari persahabatan Allah dan manusia. Natal menjadi aktualitas persahabatan itu, tatkala Yesus hadir membebaskan manusia dari kungkungan penderitaan.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved