PosKupang/

Imperatif Subjektivasi dalam Aksara Tak Bisu, Sentilan untuk HUT Provinsi NTT

Sebagai bingkisan hari jadi NTT ke-59, tulisan ini akan memfokuskan diri untuk membahas pentingnya bicara, bukan sejarah.

Imperatif Subjektivasi dalam Aksara Tak Bisu, Sentilan untuk HUT Provinsi NTT
Net
Peta NTT 

Oleh: Adibu Kelore
Gelandangan yang suka baca, tinggal di Kota Kupang

Tetapi sampai kapan pun, mereka tak pernah mengerti kalau sesungguhnya di bukit ini, hanya anjing yang tak bicara . . Sebab, AKSARA TAK BISU

POS KUPANG.COM - Perayaan ulang tahun, menyetir awasan almarhum Ben Mboi pada perayaan 100 tahun SVD Indonesia, tidak pernah boleh hanya berisi glorifikasi.

Sejarah pun mengukir kegagalan-kegagalan yang perlu dievaluasi demi pengembangan lebih lanjut. Jika demikian, bicara sejarah selalu mengandaikan adanya orientasi praktis akan masa depan.

Sebagai bingkisan hari jadi NTT ke-59, tulisan ini akan memfokuskan diri untuk membahas pentingnya bicara, bukan sejarah. Mengapa?

Dengan mudahnya akses informasi kini, sejarah NTT dapat diketahui dari pelbagai sumber. Sebaliknya, ada penghematan yang over dosis atas bicara.

Padahal sebagai bagian dari "orang Timur", karakter keras manusia NTT sering layu di hadapan solidaritas semu atas nama harmoni kolektif kesukuan dan keagamaan yang membungkus kepentingan-jabatan, sambil pada saat yang sama mengeluh tentang korupsi yang membuat NTT jalan di tempat.

Dengan latar tersebut, tulisan ini akan mengambil jalan memutar: dengan menggunakan cerpen AKSARA TAK BISU (ATB), karya Yohanes Baptista Juang Wutun, penulis secara padat akan mengemukakan urgensitas bicara menurut kacamata politik demokratis.

Oan Wutun?

Oan, demikian pengarang biasa disapa, lahir di Bandung, 12 Desember, 26 tahun silam. Pemuda berdarah Lembata-Bandung ini menempuh pendidikan di SMPK Frateran Maumere dan selanjutnya di Seminari San Dominggo, Hokeng.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help