PosKupang/

Kota Yerusalem dan Pesan Perdamaian

Begitu banyak kebahagiaan yang melengkapi setiap kisah hidup individual dengan rentetan esensi dan eksistensinya

Kota Yerusalem dan Pesan Perdamaian
(Thinkstock)
Kota Yerusalem 

Oleh : Mario Djegho
Ketua HMJ Ilmu Komunikasi, Undana Kupang

POS KUPANG.COM - DI Penghujung tahun 2017 ini terlampir begitu banyak persoalan, peristiwa hingga tragedi yang menjadi pelengkap dinamika perjalanan kehidupan seluruh umat manusia.

Begitu banyak kebahagiaan yang melengkapi setiap kisah hidup individual dengan rentetan esensi dan eksistensinya serta tidak sedikit pula pengalaman memilukan yang terjadi ketika kebijakan dan keputusan parsial mampu melukai begitu banyak hati bahkan berhujung pada konflik laten yang telah lama diredam.

Salah satu persoalan krusial yang menjadi perbincangan publik adalah isu Yerusalem pasca keputusan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dengan langkah strategis memindahkan kedutaan Amerika Serikat dari dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Hal tersebut menjadi perhatian dunia internasional, termasuk Indonesia yang ditandai oleh unjuk rasa di berbagai negara sebagai respons penolakan keputusan Trump yang dianggap melanggar resolusi PBB dan bahkan hukum internasional.

Isu Yerusalem tidak terlepas dari konflik berkepanjangan antara Israel dan Pelestina yang secara historis telah terjadi sejak 2000 SM. Persoalan Yerusalem sebenarnya tidak sebatas pada isu politik rezim tertentu, tetapi lebih luas menyangkut isu kemanusiaan dan bahkan perdamaian dunia.

Eksistensi Yerusalem sebagai basis sejarah lahirnya tiga agama besar, yakni; Yahudi, Kristen, dan Islam mampu menjadi sebuah belati kecut sensitivitas agama ketika keputusan Presiden Trump dianggap hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain.

Singkatnya, persoalan Yerusalem secara tidak langsung memiliki bias implikasi budaya yang mampu memantik timbulnya antagonisme kelompok (grup antagonis) bagi kelompok-kelompok tertentu yang memiliki kedekatan emosional, terutama kaum fundamentalis-konservatif yang tidak melihat sebuah persoalan secara rasional, moderat, dan komprehensif dalam mengambil sikap maupun tindakan.

Dalam pandangan ilmu komunikasi antarbudaya, antagonisme kelompok merupakan salah satu "hama budaya" yang mampu mendistorsi keharmonisan perbedaan sebagai sebuah realitas universal. Menurut Taylor, dkk dalam Rahman (2013 : 240) antagonisme kelompok merupakan kombinasi prasangka, stereotip, dan diskriminasi yang saling berhubungan dalam sebuah realitas kemasyarakatan.

Prasangka merupakan perasaan negatif terhadap out-group (kelompok di luar pengamat). Sedangkan stereotip adalah keyakinan mengenai karakteristik tertentu dari anggota suatu kelompok dan diskriminasi ialah perilaku merendahkan orang lain akibat keanggotaannya dalam kelompok tersebut.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help