Yayasan TLM Membangun Masyarakat Bermodalkan Kolekte, Simak Perjalanan Sejarahnya

Bermodalkan recehan kolekte jemaat Rp. 2,5 juta, para pengurus bekerja menempati gedung milik gereja di Jalan Soekarno No 14 Kupang.

Yayasan TLM Membangun Masyarakat Bermodalkan Kolekte, Simak Perjalanan Sejarahnya
ISTIMEWA
Kantor lama Yayasan TLM GMIT Kupang

POS KUPANG.COM-Tahun 1994. Tercatat dalam sejarah. Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) diketuai oleh Pdt. Dr. Benyamin Fobia (Almarhum) mendirikan sebuah yayasan. Dibaptis dengan nama Tanaoba Lais Manekat (TLM). Nama ini diambil dari bahasa Timor. Artinya Melayani Dengan Kasih.

Lahirnya Yayasan TLM bertolak dari gagasan beberapa tokoh gereja untuk meningkatkan perekonomina jemaat Gereja Masehi Injili di Timor. Tercatat badan pengurus perdana yang menahkodai Yayasan TLM ketika itu adalah Wem Nunuhitu (ketua), Marthen Mogila'a (sekretaris), Filmon B Koenunu, Pdt. Idja Frans, Suzana Arnoldus Hermanus, Esy Therik (anggota).

Bermodalkan recehan kolekte jemaat Rp. 2,5 juta, para pengurus bekerja menempati gedung milik gereja di Jalan Soekarno No 14, LLBK, Kota Kupang. Setahun kemudian, tepatnya Januari 1995, Yayasan TLM memulai kegiatan operasionalnya, dipimpin oleh Rozali Hussein, dibntu seorang staf, Semaya Nalle. Satu-satunya program kerja yang diaplikasikan adalah memberikan modal kepada jemaat untuk mengembangkan usaha produktif. Produk yang dijalankan berupa pinjaman lunak terhadap perorangan dan kelompok.

Tak sekadar memberikan pinjamam, Yayasan TLM juga meningkatkan sumber daya manusia para nasabah dengan memberikan pelatihan-pelatihan seperti membuat pembukuan, membuat prospek usaha dan sebagainya. Tujuannya agar nasabah dapat meningkatkan kememampuan dalam menjalankan usahanya.

Hari demi hari, Yayasan TLM terus berkembang. Organisasinya membutuhkan banyak tenaga kerja. Managemen pun melakukan perekrutan tenaga baru, selain membuka cabang di beberapa kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Semakin pesat, manajemen TLM mulai menyusun program-program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sesuai dengan UU No 16 Tahun 2001 yang kemudian diubah dengan UU No 28 Tahun 2004, Yayasan hanya boleh bergiat di bidang sosial keagamaan.

Untuk menyukseskan program tersebut, Yayasan TLM menyiapkan sebuah strategi, terutama untuk mendanai program-program itu agar berkembang. Strategi itu, yakni mendirikan unit-unit usaha untuk mendukung operasional dalam mendanai program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. )

Unit-unit usaha yang didirikan, yakni Koperasi Serba Usaha (KSU) Talenta, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) TLM, Koperasi Simpan Pinjam (KSP) TLM, dan Koperasi Konsumen (KK) TLM GMIT Kupang. Sedangkan Yayasan TLM tetap bergerak pada bidang yang dibolehkan oleh UU.

KSU Talenta GMIT
Dalam perkenaan dan bimbingan Tuhan, Yayasan TLM terus berubah dan berkembang. Pada tanggal 28 Januari 1996, dibentuk lagi sebuah koperasi dengan nama KSU Talenta. Tangan dingin sang "nahkoda" Rozali Hussein, dibantu dua orang staf, membuat KSU Talenta berkembang pesat dan mandiri secara manajemen.

Komitmen Yayasan TLM untuk melayani kelompok masyarakat kecil dan menengah serta kaum marginal lainnya tak pernah lekang. Melalui program pengembangan ekonomi masyarakat, yayasan memberikan modal usaha kepada nasabah untuk memulai dan mengembangkan usahanya. Pemberian modal usaha ini dijalankan melalui unit business TLM, yaitu BPR TLM, KSP TLM, dan KK TLM dengan program mikro kredit dan tabungan.

Halaman
12
Penulis: Benny Dasman
Editor: Benny Dasman
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved