PosKupang/

Adven dan Sakralitas Tahun Politik

Dunia meyakini bahwa tanpa Allah, zaman keemasan atau dunia yang baik tidak akan dapat terwujud (Barclay, 1983).

Adven dan Sakralitas Tahun Politik
ilustrasi

Oleh: Inosentius Mansur
Imam dari Seminari Tinggi Ritapiret, Maumere

POS KUPANG.COM -- Umat Kristiani sedang berada dalam masa Adven: saat menantikan Natal (kelahiran Kristus). Sejak awal, Natal selalu berkaitan dengan harapan. Dikatakan demikian, karena tatkala Kristus lahir, dunia sedang berada dalam pengharapan besar.

Dunia meyakini bahwa tanpa Allah, zaman keemasan atau dunia yang baik tidak akan dapat terwujud (Barclay, 1983). Kristulah yang (diharapkan) dapat merealisasikan zaman keemasan itu. Tentang hal ini, nabi Yesaya (40:2) telah meramalkan: "serukanlah kepadanya bahwa perhambaanya sudah berakhir". Tentu saja yang dimaksudkan adalah pembebasan dari penindasan dosa. Beberapa tahun kemudian,

Dia yang dinantikan dan telah diramalkan tersebut, secara masif melawan segala praksis distortif yang bertolak belakang dengan apa yang diharapkan. Itulah cara Dia memperlihatkan keberpihakan Allah sekaligus menjawab harapan umat Israel.

Dalam tulisan ini, saya coba mengelaborai korelasi antara masa Adven dengan pesta demokrasi elektoral yang perhelatannya sedang kita nantikan juga.

Melampaui Kekuasaan

Kita sedang memasuki tahun politik dimana pemimpin akan ditentukan melalui hajatan demokrasi elektoral. Inilah tahun penuh harapan, tahun dimana harapan akan datangnya politikus dedikatif semakin bersemi di hati rakyat.

Namun demikian, mesti diakui antara harapan dan kenyataan selalu bertolak belakang. Dikatakan demikian karena pentas elektoral acapkali direduksi ke dalam konsep pragmatis-ambisius. Orang-orang yang bertarung lebih beroritentasi pada kedudukan/kekuasaan.

Akibatnya, banyak politikus yang diproduksi melalui hajatan elektoral justru berseberangan dengan rakyat. Maka cukup beralasanlah jika (sebagian) rakyat meragukan kredibilitas setiap hajatan demokrasi lima tahunan.

Alih-alih menghasilkan politikus berhati tulus, yang didapat malah (acapkali) politikus yang menghancurkan semua mimpi-mimpi rakyat. Benarlah tesis Wasesa (2011) bahwa partai politik dan politisi di Indonesia hanya "menyapa" konstituen biasa atau pendukung biasa setiap lima tahun saja, yakni menjelang pemilihan umum.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help