Keseriusan Rumah Sakit di Kupang Mengelola Sampah Medis. Ternyata Begini!

Limbah B3 diidentifikasi sebagai bahan kimia dengan ciri gampang meledak, gampang terbakar, berbentuk

Keseriusan Rumah Sakit di Kupang Mengelola Sampah Medis. Ternyata Begini!
ilustrasi

POS KUPANG.COM -- Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merilis nama-nama rumah sakit di Kota Kupang yang tidak memenuhi syarat untuk mengelola limbah medis.

Limbah medis atau yang biasa disebut B3 (Bahan Berisiko dan Beracun), yang tidak diolah dengan baik ini akan menjadi risiko besar bagi masyarakat dan lingkungan alam di kemudian hari.

Limbah B3 diidentifikasi sebagai bahan kimia dengan ciri gampang meledak, gampang terbakar, berbentuk reaktif, beracun, penyebabnya infeksi, berbentuk korosif dan lainnya. Kalau sudah demikian, bahaya dari limbah B3 sangat besar. Efeknya bisa langsung terasa, dan juga baru nampak beberapa tahun sesudahnya.

Pembuangan limbah ke lingkungan bakal menyebabkan permasalahan yang rata serta menebar di lingkungan yang luas. Limbah gas terbawa angin dari satu tempat ke tempat yang lain.

Limbah cair atau padat yang dibuang ke sungai, dihanyutkan dari hulu hingga jauh ke hilir, melampaui batas-batas lokasi pada akhirnya bermuara di laut atau danau, seakan-akan laut atau danau jadi tong sampah.

Limbah punya masalah di antaranya datang dari aktivitas pemukiman, industri, pertanian, pertambangan serta rekreasi.

Hal inilah yang membuat aparatur pemerintah dari Dinas Lingkungan Hidup mencak- mencak.

Ada banyak pelanggaran yang dilakukan pihak rumah sakit dalam mengolah limbahnya. Limbah dibiarkan berserakan berhari-hari. Bahkan ada temuan di sebuah rumah sakit besar, yang limbahnya tidak diolah lebih dari sebulan.

Temuan lainnya adalah bahwa alat pengolah limbah di rumah sakit yang ada tidak memenuhi syarat. Pengolah limbah yang baik, saat dihancurkan harus hancur 99 persen. Kalau masih di bawah itu, tandanya pengelolaan limbah yang belum bagus.

Satu yang menjadi catatan dari temuan terkait pengolahan limbah medis ini adalah tidak dijalankannya rekomendasi oleh kabupaten/kota. Rekomendasi yang ditandatangani Gubernur NTT, Frans Lebu Raya itu diacuhkan. Hal ini bisa dilihat dari tidak adanya tindak lanjut semisal peninjauan terhadap lokasi pengolahan limbah yang sudah direkomendasikan.

Apa yang mesti kita lakukan? Perangi bersama. Ingatkan pihak rumah sakit untuk mengolah limbahnya dengan baik. Pihak manajemen rumah sakit seharusnya tidak apatis dengan temuan dan rekomendasi dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTT.

Temuan itu sudah menjadi masalah. Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Rumah sakit sebagai benteng terakhir manusia merindukan kesembuhan mereka dari aneka penyakit jangan malah memproduksi penyakit dengan menganggap remeh sampah medis. *

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help