PosKupang/

Limitasi Penerapan Inovasi dalam Agribisnis Jagung di NTT

Oleh sebab itu, pemerintah menetapkan NTT sebagai salah satu lumbung pangan di Indonesia. Tanaman jagung

Limitasi Penerapan Inovasi dalam Agribisnis Jagung di NTT
cookpad.com
ilustrasi 

Menurut Roger (1971), inovasi adalah sesuatu yang baru bagi seseorang dan bersifat relatif. Oleh karena bersifat relatif, maka baru bagi seseorang belum tentu baru bagi orang lain. Kebaruan tersebut dapat berupa;

1) Inovasi dalam bentuk teknologi secara fisik yang dapat dilihat dan diraba (benih, pupuk, pestisida, alat-alat pertanian, serta teknik budidaya), dalam konteks ini maka kita mengamini bahwa banyak inovasi telah diberikan oleh pemerintah kepada petani.

2) Inovasi berupa gagasan-gagasan (impact point yang ditemukan melalui hasil kajian atau pengamatan secara cermat); 3) Inovasi berupa perekayasaan sosial dalam pengembangan kapasitas petani (antara lain; pengembangan model komunikasi penyuluhan sesuai kondisi sosial budaya masyarakat seperti struktur perilaku petani dan kemampuan adopsi inovasi).

Seringkali inovasi pertama tersebut gagal diadopsi petani karena limitasi bahkan kealpaan terhadap aplikasi inovasi kedua dan ketiga. Kedua inovasi ini minim diperhatikan dalam pembangunan pertanian khususnya pengembangan agribisnis jagung.

Ketersediaan inovasi atau teknologi secara fisik sebenarnya tidak menjadi masalah bagi petani di NTT sebab setiap tahun pemerintah membagikan benih unggul, pupuk berkualitas, alat-alat pertanian serta kegiatan penyuluhan tentang teknik budidaya.

Pengalaman penulis (2016) bertemu dengan 243 orang petani di Kelurahan Karangsisrih, Desa Nusa (TTS), Desa Pukdale dan Oeteta (Kupang), yang dipilih secara purposive random sampling, bertanya kepada petani tentang jenis jagung dan varietas yang unggul, umumnya petani tahu.

Tetapi ketika penulis bertanya tentang teknik budidaya terbaru 1x1: 20x40Cm, hanya tiga orang petani yang tahu tetapi masih ragu menerapkannya. Padahal inovasi budidaya ini sudah dilakukan oleh petani di Jawa.

Buktinya, ketika melakukan perjalanan menggunakan kereta api dari Malang ke arah barat seperti Solo, Jogya dan Jakarta, sepanjang perjalanan penulis melihat hamparan kebun jagung (khususnya Jawa Timur sampai Jawa Tengah).

Semua kebun jagung ditanam dengan sistem 1x1: 20x40 Cm. Sebab itu, produktivitas jagung di tempat itu tinggi rerata mencapai 5.5 ton/ha.

Teknik budidaya ini dianggap terbaru dan produktivitasnya lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional. Sistem tanam 1x1, artinya satu lubang ditanam dengan satu biji benih jagung.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help