PosKupang/

Limitasi Penerapan Inovasi dalam Agribisnis Jagung di NTT

Oleh sebab itu, pemerintah menetapkan NTT sebagai salah satu lumbung pangan di Indonesia. Tanaman jagung

Limitasi Penerapan Inovasi dalam Agribisnis Jagung di NTT
cookpad.com
ilustrasi 

Oleh: Dr. Ir. Leta Rafael Levis
Dosen Fakultas Pertanian Undana Kupang

POS KUPANG.COM - Kemajuan program jagung di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menempatkan NTT sebagai provinsi keenam dengan produksi jagung tertinggi di Indonesia setelah Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sulawesi Selatan dan Provinsi Gorontalo.

Oleh sebab itu, pemerintah menetapkan NTT sebagai salah satu lumbung pangan di Indonesia. Tanaman jagung di NTT menyebar di seluruh kabupaten.

Tetapi berdasarkan Road Map Pengembangan Jagung NTT (2013), ada sembilan kabupaten menjadi prioritas pengembangan jagung, yakni Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Belu, Timor Tengah Utara (TTU), Manggarai Timur, Nagekeo, Kabupaten Sikka, Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Sumba Barat Daya.

Komoditi jagung, selain untuk memenuhi kebutuhan pangan, juga untuk kegiatan bisnis yang disebut agribisnis jagung. Ada tiga jenis jagung yang dikembangkan di wilayah NTT untuk memenuhi kedua maksud tersebut, yakni jagung lokal, jagung komposit (seperti lamuru, bisma, arjuna) dan jagung hibrida (BC 16, BC22, N35, dan lain-lain).

Jagung lokal memiliki daya tahan lebih kuat terhadap serangan hama serta perubahan iklim (tetapi kurang memiliki prospek bisnis yang baik), menyusul jagung komposit, kemudian jagung hibrida. Jagung lokal dapat disimpan lama dan dapat digunakan sebagai benih untuk tahun berikutnya, menyusul jagung komposit.

Sebaliknya, jagung hibrida tidak demikian karena hanya bertahan paling lama enam bulan. Jagung hibrida ini bukan untuk konsumsi manusia melainkan untuk bahan baku industri makanan ternak dan lain-lain.

Jika dilihat dari aspek produktivitas, NTT masih jauh di bawah standar potensi produktivitas yang seharusnya dihasilkan oleh jagung Arjuna dan Bisma serta produktivitas jagung secara nasional.

Misalnya, rerata produktivitas jagung komposit -Lamuru dan Bisma -yang umum ditanam oleh petani di NTT hanya mencapai 2,1 ton/ha (2011), 2,3 ton/ha (2012), 2,5 ton/ha (2013), 2,52 ton/ha (2014), 2,53 ton/ha (2015) dan 2,67 ton/ha (2016). Padahal, kedua jenis jagung tersebut dapat berproduksi mencapai rerata 7.6 ton/ha jenis Lamuru dan 7,5 ton/ha jenis Bisma.

Butuh Inovasi

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help