Pelaku Pariwisata Kelimutu Punya Alasan Mengapa Mereka Tolak Semenisasi

Bagi masyarakat Ende-Lio gunung Kelimutu memiliki nilai sakral tersendiri. Ini penjelasannya

Pelaku Pariwisata Kelimutu Punya Alasan Mengapa Mereka Tolak Semenisasi
Pos Kupang/Romualdus Pius
Dialog antara pelaku pariwisata dan Balai Taman nasional Kelimutu yang digelar di Ende, Senin (20/11/2017) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Romualdus Pius

POS-KUPANG.COM | ENDE - Para pelaku pariwisata sekitar Kelimutu bersikeras menolak pelaksanaan semenisasi sejumlah sarana pendukung yang ada di puncak Gunung Kelimutu yang pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh Balai Taman Nasional Kelimutu.

Oleh karena itu mereka meminta kepada pihak TNK untuk segera membongkar bangunan tersebut

Hal ini terungkap dalam dialog antara para pelaku pariwisata Kelimutu dengan pihak Balai Taman Nasional Kelimutu yang berlangsung di Aula Hotel Iklas Ende, Senin (20/11/2017).

Dalam selebaran yang diterima dari Hans Bata selaku koordinator pelaku pariwisita Kelimutu para pelaku pariwisata Kelimutu menolak semenisasi di Kelimutu dengan alasan kawasan puncak Kelimutu tidak hanya milik TNK saja tapi juga milik masyarakat Moni, masyarakat Kelimutu dan masyarakat Kabupaten Ende.

Kawasan puncak Danau Kelimutu adalah tempat yang sakral menurut kepercayaan masyarakat Lio yang tinggal dan bermukim di kaki Gunung Kelimutu dan sekitarnya serta masyarakat Kabupaten Ende secara umum.

Masyarakat dan budaya Lio percaya bahwa setiap manusia yang meninggal maka arwahnya akan pergi tinggal di Kelimutu sesuai warisan cerita nenek moyang turun temurun.

Tradisi kepercayaan ini menjadi bagian yang sangat penting dan merupakan aset warisan budaya leluhur yang patut dan wajib di jaga serta dilestarikan oleh semua anak cucu dan atas segala sesuatu yang sudah diatasnya agar tidak ditambah atau dikurangi keadaannya.

Kegiatan pembangunan dan merubah bentuk kawasan puncak danau Kelimutu yang sakral ini merupakan tindakan yang bertentangan dengan upaya untuk melestarikan budaya warisan leluhur dan alam sesuai dengan kondisi atau keadaannya apalagi membuat dan menciptakan bangunan baru yang modern.

Keunikan Danau tiga warna dengan kondisi topografi alamnya yang sakral dan natural menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung atau wisatawan mancanegara atau lokal agar jangan dibuat sama seperti taman hiburan buatan manusia.

Halaman
12
Penulis: Romualdus Pius
Editor: Marsel Ali
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved