Perketat Izin Koperasi Untuk Menghindari Koperasi Berperilaku Rentenir

Terkait dengan sejumlah koperasi yang bakal dibubarkan, ini penjelasan dari para pelaku koperasi

Perketat Izin Koperasi Untuk Menghindari Koperasi Berperilaku Rentenir
Dokumen Pos Kupang
Yohanes Sason Helan 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Hermina Pello

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Pemerintah dalam memberikan ijin Badan Hukum (BH) untuk Koperasi harus diperketat, misalnya jumlah anggota minimal 100 orang, perangkat Pengurus dan manajemen sudah lengkap.

Kemudian, mempunyai administrasi pelayanan yang baik, mempunyai kantor pelayanan yang strategis dan nyaman serta memiliki modal sendiri dari anggota minimal 200 juta rupiah bukan modal pinjaman atau penyertaan dari pihak luar.

Demikian GM Kopdit Swasti Sari, Yohanes Sason Helan pada Minggu (19/11/2017) terkait dengan berita dari Kadis Koperasi dan UMKM Provinsi NTT di Pos Kupang Pada tanggal 17 november tentang 367 koperasi tidak aktif dan 201 koperasi dipastikan akan dibubarkan serta tidak bisa diselamatkan.

"Berita ini sangat menyedihkan bahkan memprihatinkan. Yang menjadi pertanyaan siapa yang sebenarnya bersalah. Pertanyaan ini bisa dijawab oleh pemerintah dalam hal ini Dinas Koperasi Kota, Kabupaten atau Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi serta Pengurus atau manajemen koperasi yang bersangkutan. Yang dijawab pemerintah sebenarnya siapa yang memberi ijin sampai mengantongi Badan Hukum (BH), apakah sudah diperketat dengan persyaratan administrasi atau belum, faktor ekonomi mendukung atau tidak, sudah berapa koperasi atau lembaga keuangan lain di wilayah tersebut,"katanya

Yohanes mengatakan ini sebenarnya faktor utama dalam memberi ijin pembentukan sebuah koperasi untuk mengantongi Badan Hukum (BH).

Dari Pengurus atau manajemen koperasi yang bersangkutan, tujuan utama pembentukan koperasi untuk apa, apakah untuk kepentingan perubahan peningkatan kesejahteraan anggota atau tidak, atau hanya kepentingan sesaat, kepengurusan dan manajemen kita berjalan dengan baik atau tidak.

Sistim manajemen terbuka tidak, mempunyai kantor pelayanan strategis atau tidak atau masih menggunakan rumah pengurus yang pelayanan hanya asal asalan atau dengan istilah koperasi merpati, disaat ada jagung merpatinya terbang datang untuk menikmati dan dikalah jagung habis merpati akan terbang dan menjauh. (*)

Penulis: Hermina Pello
Editor: Marsel Ali
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help