PosKupang/

Agar Tidak Jadi Korban Keganasan Media Sosial, Anda Perlu Baca Artikel Karya Anak NTT Ini

Ditambahkan pula sesuai Pasal 28 ayat 2 UU ITE ditekankan bahwa setiap orang yang sengaja dan tanpa hak menyebarkan

Agar Tidak Jadi Korban Keganasan Media Sosial, Anda Perlu Baca Artikel Karya Anak NTT Ini
ilustrasi 

Oleh: Robert Bala
Diploma Public Speaking (Hablar en Público) Universidad Complutense de Madrid, Pelaku Media Sosial.

POS KUPANG.COM -- Beberapa saat lalu, hampir semua pelaku media sosial diingatkan pesan berikut: "Admin WhatsAPP boleh dipenjara". Dijelaskan: `Admin WhatsApp yang gagal bending penyebaran maklumat tidak benar, fitnah, hasut, menipu akan dihukum".

Ditambahkan pula sesuai Pasal 28 ayat 2 UU ITE ditekankan bahwa setiap orang yang sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu, berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dapat dihukum.

Beberapa hari berselang kembali ditampilkan sebuah `INFO TERKNI'. Intinya disampaikan bahwa sejak 31 Oktober 2017, sesuai peraturan terbaru, semua panggilan, rekaman panggilan, wahatsApp, Twitter, Facebook, dan semua media sosial akan dipantau.

Ada apa di baliknya? Mengapa pemberitahuan itu mestinya tidak dianggap sekadar sebuah peringatan atau sungguh sebuah ancaman? Apa yang bisa dibuat agar kita tidak terjebak dalam perangkap tersebut?

Menggoda

Whats on your mind (apa yang sedang anda pikirkan), demikian media sosial membuka kontak di halaman utama. Sebuah frase penuh godaan. Ada aneka pikiran yang mengemuka, terutama pikiran yang menyenangkan tetapi juga yang memunculkan kegalauan.

Permasalahan, sebuah kegembiraan atau kegalauan selalu kontekstual. Ia tekait sebuah situasi, melibatkan orang lain sebagai penyebab, dan tentu saja ketika diungkapkan dapat memunculkan aneka interpretasi.

Sekilas orang merasa, media sosialku bersifat pribadi, hal mana benar adanya. Ia adalah `bilik privatku'. Yang tidak disadari, betapapun media sosial bersifat pribadi, telah dikunci, tidak memiliki follower (pengikut), tetapi di media sosial sudah terdapat linimasa.

Ia akan menangkap semua unggahan terbaru dari semua penggunanya. Artinya, komentar apa pun di media sosial akan ditemukan walaupun sebuah akun sudah diubah lebih pribadi.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help