PosKupang/

Bukan Tampang Tapi Otak dan Hati, Catatan Menarik bagi Para Calon Kepala Daerah di NTT

Ada rohaniwan yang menjuluki politisi yang menggantungkan wajahnya di pohon sebagai hantu karena zaman dulu hanya

Bukan Tampang Tapi Otak dan Hati, Catatan Menarik bagi Para Calon Kepala Daerah di NTT
ilustrasi

Oleh: Herman Seran
Research Fellow IRGSC Kupang & Co-editor Buku Membangun Indonesia dari Pinggiran. Dapat dihubungi di herman_seran@yahoo.com

POS KUPANG.COM -- Ketika memasuki jalan-jalan protokol kota industri seperti Jakarta dan Surabaya, orang akan terpapar gebyar reklame, yang menampilkan produk-produk yang sementara dijual atau korporasi yang sedang beroperasi di kota itu.

Pemandangan kontras kita saksikan ketika memasuki jalan-jalan protokol Kota Kupang berupa baliho-baliho raksasa hingga supermini berisi wajah para politisi dibumbui retorika seadanya.

Saking banyaknya gambar politisi, papan reklame yang tersediapun tidak sanggup menampung, sehingga pohon-pohon terlihat berdaun dan berbunga kertas-kertas bergambar.

Ada rohaniwan yang menjuluki politisi yang menggantungkan wajahnya di pohon sebagai hantu karena zaman dulu hanya hantu yang bergelayutan siang malam di dahan-dahan. Pemandangan macam ini terasa biasa di musim pilkada, walau menyiratkan pesan bahwa jualan yang paling menguntungkan dan didamba publik setempat saat ini, adalah tampang para politisi.

Iklan, dalam ekonomi pasar, menampilkan animo aktual masyarakat setempat atau setidaknya imajinasi mereka yang bersedia berkorban untuk mendapatkan perhatian publik. Kerelaan beriklan merupakan suatu opportunity costs yang siap dikorbankan pengiklan, yang yakin dengan future returns on investments (ROI) yang menguntungkan.

Sebagai suatu investasi dengan pengembalian menarik dibutuhkan strategi pemasaran dan komunikasi yang efektif. Pemolesan penampilan wajah dan komunikasi yang efektif politisi menjadi sangatlah krusial.

Saking pentingnya penampilan dan strategi public relations banyak politisi yang terpaksa mengubah penampilan agar terlihat ramah dan menarik walau terlihat aneh. Ada pula artikulasi tagline yang tidak terintegrasi dengan realitas keseharian mereka. Namanya juga iklan, tak ada kecap nomor dua, semuanya nomor satu.

Dominasi iklan jualan politik dalam ruang publik setempat sejatinya mencerminkan dinamika sosial, terutama ekonomi kita yang terpusat pada aktivitas politik praktis dan turunannya seperti biaya politik dan program pemerintah. Animo publik di level diskursus dan wacana selaras ekspresi iklan di jalan-jalan protokol kota kita.

Masyarakat NTT lebih tertarik isu-isu seputar politik daripada, misalnya, isu ekonomi produktif. Orang menjadi mafhum melihat banyak orang hebat dan sukses lebih memilih politik sebagai trajektori menuju sukses ekonomi ketimbang pilihan hidup lainnya.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help