Gadis Berjilbab dan Segelas Teh, Kisah Seorang Calon Pastor Tinggal di Pondok Pesantren

Seorang santri menghantar saya ke sebuah asrama tempat saya inap. Dari jendela kamarku, kulihat anak-anak santri

Gadis Berjilbab dan Segelas Teh, Kisah Seorang Calon Pastor Tinggal di Pondok Pesantren
Alsadad Rudi
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bersama para santriwan dan santriwati saat peringatan Hari Santri yang diadakan Relawan Nusantara Nahdlatul Ulama di Wisma Antara, Jakarta Pusat, Jumat (19/10/2016). 

POS-KUPANG.COM - Seorang eks seminaris, Gaudensius Burhanudin, mengenang pengalamannya live in di sebuah pondok pesantren pada tahun 1998.

Sepengetahuan penulis, pada saat itu dia sedang belajar di Sekolah Tinggal Filsafat Katolik STFK Ledalero-Maumere-Flores.

Sebagai seorang calon imam misionaris dari Serikat Sabda Allah (SVD), dia mendapat kepercayaan untuk live in pondok pesantren, sebentuk dialog antaragama.

Entah berapa lama dia live in di sebuah pondok pesantren, ternyata pengalaman itu sungguh membekas dalam benaknya.

Setelah pengalaman itu berlalu 19 tahun, dia pun menggoreskan secuil kisahnya saat berada di pondok pesantren, entah pondok pesantren apa.

Kisah itu dituangkan di akun Facebook pribadinya, Gaudensius Burhanudin, Senin (23/10/2017), menyambut hari Pesantren 2017.

Judulnya, Gadis Berjilbab dan Segelas Teh.

Berikut kisahnya.

Terkenang lagi, sore itu di penghunjung Juli 1998, saya memasuki gerbang pondok Pesantren.

Itulah hari pertama napasku menghirup aroma kehidupan anak-anak santri.

Halaman
1234
Penulis: Agustinus Sape
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved