Begini Respon Petani Terhadap Himbauan Kepala Stasiun Klimatologi Kupang

"Kami memamg paham itu. Memang kebiasaan selama ini begini. Ini namanya hujan dua, tiga dan empat hari kalau istilah kita orang Timor."

Begini Respon Petani Terhadap Himbauan Kepala Stasiun Klimatologi Kupang
POS KUPANG/GORDI DONOFAN
Anggota Kelompok Tani Fenun di Desa Baumata, Kabupaten Kupang. 

Laporan Reporter Pos Kupang.com, Gordi Donofan

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Kepala Stasiun Klimatologi Kupang, Apolinaris Geru menegaskan wilayah NTT belum memasuki musim penghujan.

Hujan yang mengguyur Kota Kupang dan sejumlah wilayah lainnya di NTT akhir-akhir ini dipicu pembelokan angin sehingga terjadi perlambatan pergerakan angin yang memungkinkan terjadinya pertumbuhan awan yang menyebabkan terjadinya hujan.

"Selain itu dikarenakan suhu muka laut di perairan sekitar NTT yang hangat. Sehingga lebih banyak mensuplai uap air ke atmosfer untuk selanjutnya terbentuk awan dan hujan," jelas Apolonaris sebagaimana dikutip dari grup WhatsApp BMKG, Sabtu (21/10/2017).

Apolinaris mengimbau masyarakat petani mewaspadai hujan tipuan (false rain).

Baca: Keluarga Minta Jenazah Yaner Afeanpah Diotopsi

False rain adalah hujan yang terjadi di awal masuknya musim penghujan tapi secara klimatologis masih belum masuk musim hujan.

"Jangan sampai masyarakat menganggap bahwa saat ini sudah masuk musim penghujan dan bisa mulai menanam. Secara klimatologi saat ini belum masuk musim penghujan dan masih dalam masa transisi," ujar Apolinaris.

Dia mengimbau masyarakat petani lahan tadah hujan/tegalan/ lahan kering di pulau Timor agar tidak langsung mengambil sikap untuk menanam karena akan berisiko gagal tanam akibat dry spell pada beberapa minggu mendatang.

"Jangan dulu tanam karena saat ini belum masuk musim penghujan," imbaunya.

Baca: VIDEO: Penjelasan Johny Tulasi, Keluarga Korban yang Tewas di Mapolres TTU

Bagaimana respon petani?

Petani di Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang menyatakan siap mengikuti arahan tersebut.

Ketua Kelompok Tani Fenun, Soleman Mau mengatakan, "Kami memamg paham itu. Memang kebiasaan selama ini begini. Ini namanya hujan dua, tiga dan empat hari kalau istilah kita orang Timor."

"Kami sudah antisipasi itu. Memang saran itu benar. Pengalaman selama ini memang seperti itu. Tanaman yang akan ditanam hanya harap air hujan tidak ditanam, takutnya tiba-tiba hujan tidak turun lagi itu yang repot," ujar Soleman.(*)

Penulis: Gordi Donofan
Editor: Alfons Nedabang
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved