PosKupang/

Merindukan Pemimpin yang Ugahari, Mungkinkah Terwujud di NTT?

Dalam buku ini, sophrosune dipahami sebagai sebuah syarat mutlak dalam pendidikan politik dan berpolitik.

Merindukan Pemimpin yang Ugahari, Mungkinkah Terwujud di NTT?
ilustrasi

Oleh: Dony Kleden
Rohaniwan dan Antropolog, tinggal di Konventu Redemptoris, Jl. Katedral No.2 Weetebula, Sumba Barat Daya, NTT

Orang yang tidak ugahari, sesungguhnya dia tidak boleh menjadi seorang politisi. Keugaharian menuntut dalam diri seseorang untuk mengontrol dirinya dari segala jebakan keserakahan (Sokrates)

POS KUPANG.COM - Pendapat Sokrates tentang keugaharian atau dalam bahasa Yunani disebut sebagai sophrosune dapat kita baca dalam buku yang berjudul Xarmides (Dorian:2014).

Dalam buku ini, sophrosune dipahami sebagai sebuah syarat mutlak dalam pendidikan politik dan berpolitik.

Dalam kaitannya dengan dunia politik, Sokrates mengartikan sophrosune sebagai suatu usaha pengenalan diri. Pengenalan diri ini berarti orang mengetahui apa yang memang ia ketahui dan mengetahui apa yang memang ia tidak ketahui. Dan menurut Sokrates, untuk sampai pada tahap ini, orang harus mampu mengakui bahwa tidak semua hal kita ketahui, dan semua orang punya keterbatasan.

Hanya lewat jalan ini, seseorang dibebaskan dari segala godaan untuk sombong, seolah-olah dia tahu segalanya, sebagaiaman kebanyakan politisi zaman ini. Dengan mengetahui dan mengenal diri, diri dan jiwa diajak untuk lebih ugahari.

Ia menjadi lebih hati-hati, lebih tahu batas dan dengan tegas menempatkan dirinya pada arena benar, bukan area abu-abu dan kompromi sesat. Dalam kaitan dengan ini, Sokrates lalu mengartikan lagi sophrosune sebagai pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan.

Sophrosune dan Politik Pragmatis

Ada semancam mitos klasik yang sampai sekarang masih begitu kuat diidap dalam dunia politik adalah bahwa dunia politik adalah dunia perang strategi dan intrik. Dan, dalam perang strategi dan intrik itu, moralitas menjadi absen, sehingga semuanya seakan-akan menjadi amoral (amoral: tidak ada hubungan dengan moral).

Sebuah fenomena yang dianggap biasa tetapi sangat imoral (tidak bermoral). Sophrosune yang substansinya adalah moral, disandra oleh politik kepentingan (pragmatis) yang hanya mempunyai orientasi jangka pendek. Etika politik menjadi barang mewah yang sulit dijangkau.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help