PosKupang/

TNI Ungkap Peluru yang Diimpor Brimob Untuk Perang Perkubuan

Musuh yang berada di balik perkubuan bisa dihancurkan menggunakan peluru yang menyerupai granat tersebut.

TNI Ungkap Peluru yang Diimpor Brimob Untuk Perang Perkubuan
TRIBUNNEWS.COM/PUSPEN TNI/Kolonel Inf Bedali Harefa
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Wuryanto, S.Sos, M.Si di Balai Wartawan Puspen TNI, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (25/9/2017). 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Sengeri apa daya ledak dari amunisi tajam 5.932 amunisi untuk arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) Kal 40 x 46 milimeter milik Brimob yang akhirnya disimpan di gudang amunisi Markas Besar TNI.

Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayor Jenderal Wuryanto mengungkapkan peluru tersebut digunakan untuk perang perkubuan.

Musuh yang berada di balik perkubuan bisa dihancurkan menggunakan peluru yang menyerupai granat tersebut.

"Masalah ancaman amunisi seperti ini ditujukan untuk menghancurkan perkubuan. Jadi orang orang yang berada di belakang perkubuan bisa dihancurkan dengan amunisi ini," kata Wuryanto saat memberikan keterangan pers di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (10/10/2017).

Baca: Warga Translok Lainbaru Dapat Sumur Bor dan Traktor, Begini Harapan Bupati Sumba Timur

Kepada wartawan, Wuryanto mengungkapkan kengerian akibat dari peluru tersebut keluar dari laras.

Pertama, setelah meledak, peluru itu kemudian meledak untuk kali kedua dan menimbulkan pecahan tubuh granat berupa logam kecil yg melukai maupun mematikan.

"Granat ini bisa meledak sendiri tanpa benturan setelah 14-19 detik lepas dari laras. Jadi ini luar biasa. TNI sendiri sampai saat ini tidak punya senjata dengan kemampuan jenis itu," ujar Wuryanto.

Kedua, amunisi yang dikemas dalam 71 koli itu mempunyai radius mematikan 9 meter dan jarak mencapai 400 meter.

Penyimpanan amunisi yang mematikan itu di gudang TNI karena belum ada aturan sebagai payung hukum agar amunisi tajam tersebut bisa dimiliki selain institusi militer.

Halaman
12
Editor: Alfons Nedabang
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help