PosKupang/

Keranjingan Main Game di Ponsel, Gadis 21 Tahun ini Akhirnya Buta

Menurut gadis yang menyebut dirinya Xiaojing (nama samaran), bermain game adalah satu-satunya hobi yang ia miliki.

Keranjingan Main Game di Ponsel, Gadis 21 Tahun ini Akhirnya Buta
AFP PHOTO / JIM WATSON
Seorang wanita memegang ponsel saat dia memainkan game Pokemon Go di Taman Lafayette di depan Gedung Putih, Washington DC, Selasa (12/7/2016). 

POS-KUPANG.COM - Remaja 21 tahun menderita kebutaan setelah 24 jam bermain game tanpa henti via smartphone.

Menurut gadis yang menyebut dirinya Xiaojing (nama samaran), bermain game adalah satu-satunya hobi yang ia miliki.

Xiaojing bisa menghabiskan malam dan akhir pekan dengan bermain game di smartphone.

Ia bahkan rela memangkas jam tidur dan tak memerhatikan kesehatan tubuhnya.

“Saya sangat ketagihan main game bahkan sampai lupa makan dan mandi,” kata Xiaojing.

“Saya selalu bilang ke diri sendiri ‘ini bakal jadi ronde terakhir’, tapi saya tak bisa berhenti,” ia menambahkan.

Kisah ketagihan game yang berujung kebutaan ini terjadi pada satu hari libur. Xiaojing yang bekerja sebagai akuntan ingin melepas penat dengan bermain game tanpa jeda.

Game yang ia mainkan kala itu adalah “Honour of Kings” yang dikembangkan raksasa China, Tencent.

Game tersebut sangat populer di China, hingga menghimpun 200 juta pengguna.

Setelah beberapa jam asyik main game, Xiaojing merasakan penglihatan mata sebelah kanannya buram hingga benar-benar hitam.

Ia hanya bisa melihat dengan mata kiri, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Sabtu (11/7/2017), dari BGR.

Ia pun panik dan segera ke rumah sakit. Setelah diperiksa, dokter mendiagnosis Xiaojing terkena retinal artery occlusion (oklusi arteri retina). Penyebabnya tak lain karena terlalu intens di depan layar smartphone.

Retinal artery occlusion memiliki rekam jejak medis yang buruk selama ini. Kebanyakan orang yang mengidap penyakit itu mengalami kebutaan total pada akhirnya. Hanya 20 hingga 35 persen yang pulih.

Dokter yang menangani kasus Xiaojing pun tak berani menjamin apakah penglihatan gadis tersebut bisa kembali seperti semula.

Kasus naas ini bisa dijadikan pembelajaran dan introspeksi agar lebih bijak menentukan porsi dan durasi aktivitas sehari-hari. (*)

Editor: agustinus_sape
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help