Inilah Korelasi Saracen, Hoaks dan Amunisi Literasi

Saracen yang berdiri sejak tahun 2015 berdasarkan data Asosiasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia (APJII)

Inilah Korelasi Saracen, Hoaks dan Amunisi Literasi
IST

Oleh: Rio Nanto
Mahasiswa STFK Ledalero Maumere, Flores

POS KUPANG.COM - Pengungkapan kelompok Saracen oleh Tim Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri pekan lalu membuka mata publik bahwa industri berita bohong atau hoaks adalah suatu problem yang kompleks di Indonesia.

Saracen yang berdiri sejak tahun 2015 berdasarkan data Asosiasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016 telah mengakomodir 800.000 pengikut dari 132,7 juta penduduk Indonesia yang aktif berinternet.

Penangkapan Kelompok Saracen ini menjadi suatu bukti kerja keras pemerintah untuk menciptakan kohesi sosial. Saracen sebagai pelaku hoaks marak memberitakan berita bohong yang disebarkan lewat media sosial. Jika dielaborasikan lebih dalam hoaks bukan saja soal kebohongan sebagai antitesis kebenaran.

Hoaks terbukti menakutkan terutama karena hoaks mereproduksi informasi yang mengandung ujaran kebencian dan provokasi. Intensi utamanya ialah menjelekan pihak lain sehingga mengancam kohesi sosial.

Ironisnya, kebohongan itu menjadi suatu kebenaran yang dikultuskan oleh masyarakat. Secara gamblang masyarakat kecil menaruh kepercayaan terhadap berita-berita itu.

Di sini benarlah tesis Orator dan demagog ulung Joseph Goebbels, Menteri propaganda rezim Adolf Hitler, bahwa kehohongan yang terus diulang-ulang dalam waktu lama akan menjadi fakta bagi kalangan yang picik dan tidak berpikir. Bahkan pembohong bisa jadi percaya pada kehobongannya sendiri.

Memang in se manusia suka berbohong dan menyebarkan berita bohong. Alasannya beragam, mulai dari menyenangkan orang lain, mencari keuntungan atau menyelamatkan diri saat terancam, hingga menjadikan berbohong sebagai permainan atau kesenangan belaka. Kebohongan sejati adalah hal manusiawi.

Tetapi saat kehobongan dilakukan kolektif bahkan jadi industri, kehobongan tak lagi manusiawi. Kebohongan kolektif ini menjadi sebuah sindikat kejahatan yang perlu diwaspadai apalagi jamak mereproduksi informasi berisikan provokasi.

Salah satu isu kebohongan kolektif yang cukup menyita atensi publik Indonesia adalah kasus Sara. Isu ini dimanfaatkan oleh penyebar hoaks untuk mengaplikasikan strategi devide et impera. Minimnya budaya literasi yang membentuk generasi yang kritis menjadi kendala besar dalam menyaring informasi.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help