Ini Alasan Mengapa Keluarga Almarhum Feliks Salut Datangi Polres Manggarai Barat

Ini alasannya mengapa keluarga Almarhum mantan kepala sekolah ini mendatangi Mapolres Manggarai Barat

Ini Alasan Mengapa Keluarga Almarhum Feliks Salut Datangi Polres Manggarai Barat
Pos Kupang/Servan Mammilianus
Keluarga almarhum didampingi kuasa hukum Iren Surya, SH saat mendatangi Polres Mabar, Rabu (27/9/2017) 

Laporan wartawan Pos Kupang, Servan Mammilianus

POS KUPANG.COM, LABUAN BAJO - Almarhum Feliks Salut, ditemukan oleh warga dan keluarga yang mencarinya, sudah tak bernyawa di bekas kebun yang berada di Golo Garang atau sekitar 1 Km dari rumahnya di Gempar-Terang, Desa Golo Sepang, Kecamatan Boleng pada Hari Sabtu (14/1/2017) lalu.

Pihak keluarga menilai, kematian almarhum tidak wajar karena menurut mereka, terdapat luka dan lebam di wajahnya.

Selain itu, saat ditemukan mulut almarhum dipenuhi tanah bercampur pasir.

Pihak kepolisian dari Pospol Terang sudah lakukan olah TKP tetapi hingga kini tidak ada perkembangan berarti.

Hal itulah yang membuat pihak keluarga menemui Kapolres Manggarai Barat (Mabar), AKBP DR. Supiyanto, M.Si pada Hari Rabu (27/9/2017).

Ada 6 orang anggota keluarga yang datang ke Markas Polres Mabar hari itu, termasuk isteri dari almarhum, Karolina Liha dan saudara kandung dari Karolina, Petrus Pantur, bersama anggota keluarga lainnya.

Mereka didampingi oleh Kuasa Hukum, Iren Surya, SH.
"Saat ditemukan, mulut almarhum dipenuhi tanah campur pasir, luka dan lebam di wajahnya. Ada bekas ikatan tali di tangannya," kata Karolina saat ditemui wartawan sebelum ke Polres, Rabu itu.

Sementara itu, Iren Surya, menyampaikan bahwa pada saat almarhum ditemukan, keluarga menginginkan agar jenazah divisum atau otopsi.

Namun oknum anggota polisi saat itu menjelaskan kepada keluarga bahwa bila otopsi, maka keluarga harus siapkan uang Rp 150 juta. Pihak keluarga tidak bisa memenuhinya karena tidak ada uang.

"Otopsi itu sebenarnya tidak dibayar. Makanya ada dua hal yang akan kami perjuangkan, pertama mengapa keluarga almarhum dimintai uang Rp 150 juta untuk otopsi. Kedua, kami inginkan harus lakukan otopsi," kata Iren.

Petrus Pantur menambahkan, jenazah almarhum saat itu baru bisa dikuburkan Hari Senin (16/1/2017) sore karena menunggu kepastian penanganan dari polisi.

"Keterlambatan penguburan karena kami menginginkan visum ternyata tidak dilakukan," kata Petrus.
Untuk diketahui, saat kejadian almarhum baru dua minggu mengakhiri masa jabatan sebagai Kepala Sekolah di SDN Terang.(*)

Penulis: Servan Mammilianus
Editor: Marsel Ali
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved