PosKupang/

Lahan Sekolah Disengketakan, Murid SDI Manubonu Diliburkan

Pasalnya lahan SDI Manubonu di desa Takarai, Kecamatan Botin Leobele, Kabupaten Malaka sedang disengketakan Adrianus Seran, pemilik lahan.

Lahan Sekolah Disengketakan, Murid SDI Manubonu Diliburkan
pos kupang
SDI Manubonu sepi karena muridnya diliburkan. 

Laporan Wartawan Pos Kupang.com, Dion Kota

POS KUPANG. COM, BETUN - Kegiatan belajar mengajar di Sekolah Dasar Inpres (SDI) Manubonu terhenti menyusul lahan sekolah tersebut disengketakan.

Pihak sekolah meliburkan guru dan murid sejak Senin (11/9/2017)

Kepala SDI Manubonu, Blasius Bria mengatakan dia khawatir jika terjadi sesuatu yang tak diingin terhadap siswa dan guru.

Pasalnya lahan SDI Manubonu di desa Takarai, Kecamatan Botin Leobele, Kabupaten Malaka sedang disengketakan Adrianus Seran, pemilik lahan.

"Pemilik lahan, Adrianus Seran sudah bongkar pagar. Dia (Adrianus, red) punya sapi kasih rusak tanaman yang ditanam di halaman sekolah untuk program Malaka rindang. Sudah begitu, dia ikat tali gewang di dua pohon asam yang ada di lingkungan sekolah sebagai simbol pemali untuk memakan asam dari dua pohon tersebut," jelas Blasius Bria saat dikonfirmasi Selasa (12/9/2017).

"Karena hal tersebut kami jadi takut. Kami khawatir jika ada kejadian lanjutan yang lebih fatal sehingga kita liburkan KBM dua hari ini," tambahnya.

Dia merasa tidak aman karena tanah sekolah masih diklaim oleh Adrianus Seran sebagai tanah miliknya.

Pada Rabu (13/9/2017), pihaknya akan mengadakan rapat dewan guru untuk membahas terkait penyelesaian sengketa tersebut dan kemungkinan KBM dilakukan di rumah guru masing-masing kelas.

"Kami meminta bantuan komite sekolah untuk menyelesaikan sengketa lahan tersebut. Jika tak ada titik temu, kami terpaksa melakukan KBM di rumah guru-guru karena kami merasa lebih aman KBM di sana. Kami berharap status tanah sekolah tersebut dapat jelas sehingga kami bisa KBM dengan aman dan nyaman," ujarnya.

Ditempui terpisah, guru kelas I SDI Manubonu, Benediktus Seran Nahak menuturkan Adrianus Seran mulai kesal dengan pihak sekolah ketika sapi-sapi miliknya dikeluarkan dari halaman sekolah karena telah merusak tanaman dan pagar sekolah.

Setelah kejadian tersebut, Adrianus langsung memasang tali gewang di pohon asam dan mondar-mandir di depan sekolah dengan membawa parang di pinggangnya.

"Kami libur karena takut jika terjadi sesuatu yang fatal baik terhadap siswa maupun guru. Kami yang guru sangat tidak aman dan nyaman setelah kejadian pemasang tali gewang sebagai tanda pemali di pohon asam," ujar Nahak. (*)

Penulis: Dion Kota
Editor: Alfons Nedabang
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help