PosKupang/

Inilah Catatan Menarik Tentang Katolik dan Protestan dari Katekis Keuskupan Agung Kupang

Parah. Baku marah. Pernah sampai tumpah darah. Upaya damai pernah ada. Damai sementara. Tidak lama. Baku musuh

Inilah Catatan Menarik Tentang Katolik dan Protestan dari Katekis Keuskupan Agung Kupang
Ilustrasi 

Pater Martin Luther adalah imam anggota Ordo Agustinian, Profesor, Doktor di bidang Teologi, mengajar di Universitas Wittenberg. Martin Luther menulis 95 dalil atau tesis itu sebenarnya sebagai reaksi atas isi ajaran yang disebarkan dalam kotbah-kotbah dari Pater Johann Teztel, seorang Doktor Teologi, anggota Ordo Dominikan. (John Laux, Church History, 1989, pp.163-194).

Peristiwa pengumuman 95 dalil oleh Pater Martin Luther pada 31 Oktober 2017 akan genap lima ratus tahun. Jangka waktu 500 tahun, 1517 sampai 2017, satu rentang waktu yang sangat lama. Hidup terpisah, Katolik dan Protestan.

Sebenarnya istilah Protestan dipakai dalam kalangan Gereja Katolik pada waktu itu untuk membedakan pengikut Pater Martin Luther sebagai tokoh penggagas protes terhadap ajaran resmi yang dianut Gereja Katolik.

Terjadilah dua kelompok, Katolik lawan Protestan. Kita di Indonesia pun pun mengalami perpisahan itu. Istilah dibiasakan: Misi dan Zending. Padahal, Misi dari kata Latin, missio artinya perutusan, Zending, kata bahasa Belanda, artinya perutusan.

Menurut sumber sejarah, Pater Martin Luther bukan menempelkan 95 dalil itu di pintu Gereja di Wittenberg, tetapi mengirim naskah berisi 95 dalil itu kepada Uskup Agung Albert yang berusia muda, 23 tahun, yang memimpin Keuskupan Agung Mainz.

Uskup Agung Albert menugaskan Pater Johann Tetzel, imam dari Ordo Dominican bertemu dengan Pater Martin Luther membahas 95 dalil. Dua Pater yang sama-sama Doktor di bidang teologi ini berdebat dan tidak ada titik temu.

Keduanya mempunyai banyak pengikut yang ikut ramai mempersoalkan 95 dalil Pater Martin Luther sebagai sanggahan atas isi kotbah Pater Johann Teztel. (Thomas Bokenkotter, A Concise History of the Catholic Church, 1979, p.224).

Inilah awal perpisahan yang berlangsung lima ratus tahun. Situasi pada waktu itu sangat kacau karena para bangsawan pun terpecah atas dua kelompok, yang membela dan melawan Pater Martin Luther. Masyarakat kecil ikut terbawa oleh dua arus besar ini. Pimpinan tertinggi Gereja Katolik di Roma, Paus Leo X mulai bertindak.

Sesudah pertemuan demi pertemuan gagal untuk meyakinkan Pater Martin Luther, Paus Leo X mengeluarkan Surat resmi, mengucilkan Pater Martin Luther dari Gereja Katolik tanggal 15 Juni 1520. Sebaliknya Pater Martin Luther menolak keputusan Paus Leo X dan membakar surat Keputusan itu pada 10 Desember 1520.

Pendapat Pater Martin Luther cepat sekali tersebar karena pada waktu itu mesin cetak yang ditemukan Johannes Gutenberg menjadi sarana ampuh menggandakan semua tulisan Pater Martin Luther.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help