PosKupang/

Menghela Narasi Peradaban yang Hilang

Turut hadir perwakilan Raja Rote. Dialog itu dilangsungkan di Lewoleba, Kabupaten Lembata. Dialog yang berusaha meretas

Menghela Narasi Peradaban yang Hilang
ilustrasi 

Oleh: Dr. Marsel Robot, M.Si
Dosen FKIP Undana Kupang

POS KUPANG.COM -- Ujung Juli (24-26 Juli 2017), Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur menyelenggarakan ritual bertajuk: "Dialog Kebudayaan (silaturahmi) Raja-raja Sedaratan Flores dan Lembata".

Turut hadir perwakilan Raja Rote. Dialog itu dilangsungkan di Lewoleba, Kabupaten Lembata. Dialog yang berusaha meretas jalan ke masa lalu, melewati gundukan peradaban dan lorong-lorong kehidupan komunal yang telah begitu jauh dan merabun.

Sementara status kemanusiaan kita saat ini sedang diselimut lumut hedonistik (kebahagiaan artifisial). Padahal, "setiap kita bepergian, dan kemanapun kita tuju, kita boleh lupa kain dan baju, tetapi jangan lupa identitas dan jatidiri, karena itu harga diri", kata Kepala Dinas Kebudayaan Pieter Sinun Manuk pada sesi seminar kala itu.

Saya diundang untuk memberikan kesaksian sebagai pesakitan, semacam sosok yang terlantar karena terlontar dari masa silam. Status saya sebagai manusia telah menjadi perkakas atau kalau direken-reken, maksimal menjadi suku cadang dari handphone android.

Sosok jengang, tertawa sendiri di tepi jurang pragmatisme. Lantas, kehidupan terasa sangar berada dalam kontainer yang mengangkut kepentingan dari satu pelabuhahn ke pelabuhan lain.

Lembata di siang itu memang rada cuek. Panas yang menampar kota dan pulau-pulau yang berkeluh pada kemarau, kampung-kamopung jauh dan sunyi seakan merimbunkan nostalgia.

Dalam ruang seminar seorang tuan raja menyergap saya dengan pertanyaan pendek: Sejak kapan kita ini kehilangan kepesonaan sebagai manusia? Pertanyaan pilu yang mencuatkan reflektif kritis tentang harkat hidup manusia di rimba raya teknologi komunikasi yang amat masif menyusutkan kemuliaan manusia di bumi.

Saya menimpali dengan alegoris, seraya menghela narasi peradaban yang hilang. Ya, ketika suara burung di pagi hari atau perarakan awan senja di leher bukit sebagai penanda waktu diganti dengan jam dinding dan arloji, maka dari sinilah kita mulai berhala pada benda dan masuk dalam regukan materilisme.

Di sana peradaban individualistik dan persaingan terus menikam jantung masyarakat komunal. Di sana pula, rumah kita tak lagi berfungsi sebagai institusi yang membiakkan nilai-nilai, tetapi sekedar tempat istirahat malam, terasa tengik, sumpek, tak ada mawar, tak ada lagu yang dinyanyikan ibu menjelang tidur.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help