PosKupang/

Diplomasi Bawang Merah ke Timor Leste

Membangun dari pinggiran itu diterjemahkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi NTT dengan memberi bantuan

Diplomasi Bawang Merah ke Timor Leste
POS KUPANG/EDY BAU
Bupati Belu, Willy Lay memperlihatkan bawang merah jenis tuk-tuk yang baru dipanen di Dusun Weraihenek, Desa Kabuna, Kabupaten Belu, Kamis (7/9/2017). 

POS KUPANG.COM - Keberhasilan petani di wilayah perbatasan Indonesia - Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) yakni di wilayah Kabupaten Belu dalam menanam bawang merah sungguh membanggakan. Keberhasilan ini juga sebagai jawaban atas tekad Presiden Joko Widodo untuk membangun mulai dari pinggiran.

Membangun dari pinggiran itu diterjemahkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi NTT dengan memberi bantuan atau pendampingan kepada para petani di Kabupaten Belu khususnya di Kecamatan Kakuluk Mesak untuk komoditi bawang merah dan lamtoro. Sedangkan di Kecamatan Raihat untuk komoditi cabai rawit, terung dan tomat.

Pendampingan oleh BPTP ini diberikan sejak awal hingga panen dilakukan petani. Berkat pendampingan tersebut maka hasil yang diperoleh petani mengalami peningkatan yang cukup besar yakni Rp 50 juta untuk sekali panen.

Melihat begitu bagusnya hasil panenan petani dari komoditi-komoditi tersebut, maka ada keinginan untuk melempar hasilnya ke negara tetangga Timor Leste. Sebab, selama ini diketahui bahwa Timor Leste mengekspor bawang merah ke Australia.
Kondisi ini tentunya merupakan angin segar untuk para petani di Kabupaten Belu atau wilayah lainnya di NTT ini.

Pasar bawang merah di Timor Leste ternyata begitu besar. Bawang merah harus dijadikan sebagai komoditi diplomasi kita dengan Timor Leste atau Australia. Peluang sudah ada hanya bagaimana kita di NTT menyikapi agar peluang itu bisa kita rebut.

Kita semua tahu, selama ini di NTT hanya panas-panas tahi ayam saja. Atau pada saat awal saja terlihat ramai acara seremoninua, sedangkan untuk selanjutnya tidak kedengaran lagi.

Panen awal dilakukan begitu meriah dengan menghadirkan berbagai pejabat, guting pita, panen bawang dan berbagai aktifitas seremonial lainnya.

Sudah banyak contoh yang kita saksikan di Flobamora ini, mulai dari ekspor cendana, ternak, ikan tuna, cakalang dan komoditi-komoditi lainnya. Awalnya meriah setelah itu redup.

Bahkan terkadang untuk mempertontonkan keberhasilan, kita bisa melakukan manipulasi, misalnya dengan mendatangkan bawang atau komoditi dari tempat lain untuk menunjukkan keberhasilan panenan di tempat tersebut. Tetapi kita yakin, yang dilakukan di Belu kemarin adalah fakta yang membanggakan para petani. Kita sudah jenuh dengan berbagai permainan atau manipulasi yang hanya memikat mata sesaat.

Oleh karena itu, kita mendorong pemerintah untuk memperluas areal penanaman bawang merah, jika memang target ke depannya adalah mengekspor komoditi tersebut ke Timor Leste.

Bila perlu seluruh NTT yang tentunya memiliki kondisi alam yang memungkinkan bisa ditanami bawang merah untuk digalakkan secara besar-besaran.

Sebab, jika hanya mengadalkan dua kecamatan di Kabupaten Belu tersebut tentunya jumlahnya sangat sedikit dan dipastikan tidak layak untuk diekspor. Sebab syarat untuk ekspor adalah jumlah komoditinya banyak dan produksinya dilakukan terus menerus. Mampukah para petani kita di NTT untuk memenuhinya?

Tentu jawabnya mampu, tinggal bagaimana pemerintah mengaturnya dan mendukungnya saja.*

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help