PosKupang/

Pilgub NTT: Rasional vs Transaksional

Ada cukup banyak figur yang bertarung dalam hajatan ini. Ada yang sudah menjadi paket dan segera memastikan kendaraan politik.

Pilgub NTT: Rasional vs Transaksional
ilustrasi

Oleh: Isidorus Lilijawa
Politisi Gerindra

POS KUPANG.COM - Suhu politik NTT saat ini mulai panas. Pilgub bakal digelar tahun 2018 bulan Juni, namun jagat politik sudah mulai ramai, hiruk pikuk dan penuh kejutan.

Ada cukup banyak figur yang bertarung dalam hajatan ini. Ada yang sudah menjadi paket dan segera memastikan kendaraan politik. Ada yang masih mengembara,
mencari tambatan hati dan tumpangan partai. Tak kalah seru, tim sukses pun tim kerja sibuk bermanuver memenangkan dukungan hati rakyat.

Kalkulasi politik dibahas mulai dari kampus hingga warung kopi pinggir jalan. Yang dibahas adalah siapa yang bakal keluar dari partai tertentu, dan siapa yang bakal memenangkan pertarungan ini.

Tarik-menarik antara pendekatan rasional atau transaksional atau perpaduan keduanya mulai terasa kini.

Homo Economicus
Dalam konteks politik, konsep tentang rasionalitas menjadi muara besar dalam penentuan pilihan. Apa yang memang masuk di akal sewajarnya menjadi apa yang dilakukan. Namun ternyata, kenyataan di lapangan menunjukkan berbeda.

Konsepsi tentang rasionalitas sering tak tampak dalam kenyataan praktik pilihan masyarakat.

Konsep rasional didasarkan atas teori ekonomi atau konsep manusia ekonomi (concept of an economic man). Para ahli filosofi utilitarian seperti Jeremy Bentham dan John Stuart Mill berasumsi semua tingkah laku manusia bertujuan "mencari kesenangan dan menghindari kesusahan. Bentham mengembangkan teori yang disebut hedonistic calculus yang mungkin merupakan embrio analisis biaya -keuntungan (cost-benefit analysis).

Menurut konsep manusia ekonomi, semua individu tahu tentang pelbagai macam alternatif yang tersedia pada situasi tertentu dan juga tentang konsekuensi-konsekuensi yang ada pada setiap alternatif tersebut.

Sehubungan dengan itu maka setiap orang akan berperilaku secara rasional dengan membuat pilihan-pilihan sedemikian rupa sehingga mencapai nilai yang paling tinggi. Konsep ini mengasumsikan manusia adalah homo economicus yang memiliki kepentingan-kepentingan yang harus dipuaskan.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help