PosKupang/

Ini Beberapa Catatan Apresiatif untuk Lembata sebagai Kabupaten Model Literasi

Dalam acara yang dihadiri oleh Najwa Shihab, Duta Baca Indonesia, itu, Kabupaten Lembata direncanakan menjadi

Ini Beberapa Catatan Apresiatif untuk Lembata sebagai Kabupaten Model Literasi
ilustrasi

Oleh: Feliks Tans
Dosen FKIP/Pascasarjana Undana

POS KUPANG.COM -- Tulisan ini terinspirasi oleh berita utama harian ini berjudul Najwa Sebut Kerjanya Lebih Ringan (13/8/2017, hlm. 1 & 7). Berita itu berisi acara Deklarasi Lembata Kabupaten Literasi di Lewoleba (12/8/2017).

Dalam acara yang dihadiri oleh Najwa Shihab, Duta Baca Indonesia, itu, Kabupaten Lembata direncanakan menjadi model literasi Indonesia dan, karena itu, akan dibangun taman bacaan di setiap desa, kelurahan, sekolah, dan kantor pemerintah di sana.

Taman bacaan itu akan menyiapkan bacaan yang relevan dengan kebutuhan (calon) pembaca.

Rencana tersebut, tentu amat menggembirakan bukan hanya bagi Lembata tetapi juga NTT dan Indonesia. Siapa gerangan yang tak berbangga kalau ada kabupaten di NTT menjadi model bagi bangsa ini?

Walaupun demikian, saya kira, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan agar rencana agung itu bisa dirancang secara benar dan karena itu, pada saatnya menjadi model literasi yang benar bagi gerakan literasi nasional dan bila perlu global.

Pertama, perlu ada pemahaman yang komprehensif tentang literasi. Menurut para pakar literasi seperti A. Garton dan C. Pratt (1989, Learning to Be Literate: The Development of Spoken and Written Language. New York: Basic Blackwell), literasi bukan hanya soal membaca dan menulis tetapi juga soal berbicara dan mendengar atau berdiskusi untuk, misalnya, mencari solusi terhadap masalah yang ada.

Dengan demikian, ketika Thomas Ola Langoday, Wakil Bupati Lembata, dalam berita itu mengatakan bahwa di taman bacaan di desa akan disediakan "buku tentang tata cara bertani bawang, sayur-sayuran, buah-buahan dan lainnya" yang relevan dengan kebutuhan para petani di desa, para petani itu perlu juga dipersiapkan untuk bisa menulis, minimal pada tataran literasi fungsional (lihat catatan ketiga berikut) dan bisa berdikusi tentang tata cara bertani, aktivitas pascapanen, pemasaran komoditas pertanian, dan banyak hal lain yang melekat erat dengan esensi petani sukses seperti kerja keras, disiplin, relasi, permodalan, kejujuran, dan tekad kuat.

Ketika dimaknai seperti itu, yang terlibat dalam gerakan literasi, sejatinya, bukan hanya duta baca seperti Najwa Shihab, tetapi juga para penulis, petani, birokrat, pengusaha dan motivator serta pihak lainnya yang relevan.

Dengan cara itu, desa tidak hanya menjadi pusat produksi pertanian, tetapi juga pusat pembangunan ide, misalnya, bagaimana pertanian ditautkan dengan pendidikan, kesehatan, dan sistem perdagangan yang pro-petani.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help