PosKupang/

HET Baru Menguntungkan Masyarakat dan Pedagang

Pemberlakuan HET ini memang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Untuk para pedagang aturan ini dinilai sangat merugikan

HET Baru Menguntungkan Masyarakat dan Pedagang
POS KUPANG/EDY BAU
ilustrasi 

POS KUPANG.COM -- Mulai tanggal 1 September 2017 ini, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan memberlakukan harga eceran tertinggi (HET). Pemberlakukan HET ini dikhususkan pada beras medium dan premium (Pos Kupang, 26 Agustus 2018).

Pemberlakuan HET ini memang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Untuk para pedagang aturan ini dinilai sangat merugikan. Betapa tidak, selama ini para pedagang menetapkan harga beras medium dan premium di atas HET yang sekarang diterbitkan pemerintah.

Sebelumnya para pedagang menetapkan harga beras premium di pasaran sebesar Rp 13.000 per kilogram bahkan ada yang mencapai Rp 20.000 per kilogram.

Harga jual itu ditetapkan karena menurut pengakuan pedagang modal dikeluarkan sebesar Rp 12.500 per kilogram.

Dari hitung-hitungan pedagang tersebut, maka dengan adanya penetapan HET sebesar Rp 12.600 per kilogram oleh pemerintah maka dipastikan pedagang mengalami kerugian.

Sebab, modal untuk 1 kilogram beras premium Rp 12.500 minus biaya lainnya, sedangkan harga jual sesuai HET hanya 12.600. Artinya "keuntungan" pedagang Rp 100 per kilogram.

Namun pertanyaan besarnya, apakah penetapan HET oleh pemerintah itu tanpa mengetahui kondisi pasar beras di tanah air? Atau apakah penetapan HET itu sengaja dilakukan untuk "mematikan" para pedagang beras?

Untuk menjawab kedua pertanyaan ini kita perlu melihat kepedulian dari pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla selama ini. Hampir sebagian besar rakyat Indonesia mengakui bahwa pemerintahan saat ini sangat peduli kepada rakyat, kecuali mereka yang tidak suka Jokowi.

Lihat saja kepedulian Presiden Jokowi yang menyamakan harga BBM di seluruh Indonesia. Sebelumnya, harga BBM di Papua sangat mahal yang bisa mencapai Rp 50.000 per liter untuk bensin.

Sementara harga BBM di Jawa hanya Rp 6.500 lebih per liter. Begitu juga untuk harga solar dan komoditi lainnya seperti semen yang bisa mencapai Rp 500.000 per zak di Papua.

Jika melihat hal ini maka kita tentunya yakin bahwa pemerintahan saat ini begitu besar kepeduliannya kepada masyarakat.

Oleh karena itu, keputusan menetapkan aturan HET beras medium dan premium tentunya sudah dikalkulasi secara baik dan matang oleh pemerintah. Artinya, keputusan itu tidak membebankan masyarakat dan juga tidak merugikan para pedagang kita.

Dengan HET ini, maka keuntungan yang diperoleh pedagang paling tidak terlampau besar seperti sebelumnya dapat dikurangi. Sebab bisa dibayangkan harga kedua jenis beras tersebut selama ini sungguh mahal bahkan beras premium bisa mencapai Rp 20.000 per kilogram.

Dengan harga seperti ini tentunya keuntungan yang diperoleh pedagang begitu berlipat. Ini yang diharapkan tidak terjadi lagi dalam bisnis beras di tanah air.*

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help