PosKupang/
Home »

Bisnis

» Mikro

Serda Alo, Pengusaha Batu Bata Merah di Lewoleba: Ini untuk Anak Saya

Serda Alo sedang mengawasi pekerjanya membakar batu merah di Wangatoa, wilayah Kelurahan Selandoro, Kecamatan Nubatukan

Serda Alo, Pengusaha Batu Bata Merah di Lewoleba: Ini untuk Anak Saya
POS KUPANG/FRANS KROWIN
Serda (TNI) Aloysius Pea saat memantau aktivitas pembakaran batu bata merah miliknya di Wangatoa, Kelurahan Selandoro, Lewoleba, Lembata, Senin (28/8/2017). 

Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Frans Krowin

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA – Serda (TNI) Aloysius Pea kini memiliki kesibukan tersendiri. Disela-sela padatnya pekerjaan sebagai anggota TNI, pria berkulit hitam ini mencoba menekuni pekerjaan lain, yakni mencetak batu bata merah.

Ketika ditemui Pos Kupang, Senin (28/8/2017), Serda Alo sedang mengawasi pekerjanya membakar batu merah di Wangatoa, wilayah Kelurahan Selandoro, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata.

“Ada 78 ribu batu bata yang kini sedang dibakar. Batu bata ini nantinya dijual. Hasil penjualannya untuk membantu membiayai anaknya yang sedang kuliah,” tutur Alo, demikian ia biasa disapa.

Dia menuturkan, untuk membuat batu bata merah tersebut, ia mempekerjakan tiga orang. Ketiga pekerja tersebut berasal dari Kabupaten Belu. “Mereka mulai kerja awal Juni,” ujarnya singkat.

Sesuai rencana, lanjut dia, ketiga pekerja tersebut mencetak 100 ribu batu bata. Namun karena bahan bakunya, terbatas, sehingga batu bata yang dicetak hanya 78 ribu saja.

Untuk mencetak batu bata sebanyak itu, katanya, ia harus merogoh koceknya dalam-dalam. Hingga batu bata itu dibakar, Senin (28/8/2017), ia telah mengeluarkan anggaran cukup besar, mencapai puluhan juta rupiah.

Menurut dia, batu bata itu nantinya dijual. Hasil penjualannya dipergunakan untuk biaya pendidikan anaknya yang kini sedang kuliah di Kota Kupang. “Anak saya yang sulung sedang kuliah di Unwira Kupang,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, kesibukan mencetak batu bata tersebut, sesungguhnya bukan baru baginya. Pasalnya, ketika masih kecil dulu, ia telah biasa membantu orang tua menunaikan pekerjaan yang satu ini.

“Dulu, waktu saya masih kecil, orang tua saya mencetak batu bata itu mencapai 100 ribu buah baru dibakar. Kalau sekarang ini hanya 78 ribu saja, jadi masih kurang,” ujanrya.

Ia menyebutkan, awalnya ia berharap pekerjanya bisa mencetak 100 ribu batu bata. Tapi batu bata yang tercetak hanya 78 ribu. Hal itu bukan karena pekerjanya yang kurang mampu. Tetapi tanah yang cocok untuk dicetak batu bata di atas lokasi tanahnya itu, sudah habis. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: agustinus_sape
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help