Warta Kedamaian dari Pinggiran NKRI

Merawat Asa Semboyan Adat, Cara NTT Menggapai Nusa Teladan Toleransi

Saudara-saudara, NTT tidak lagi diplesetkan dengan anekdot Nanti Tuhan Tolong atau Nasib Tidak Tentu tetapi Nusa Teladan Toleransi.

Merawat Asa Semboyan Adat,  Cara NTT Menggapai Nusa Teladan Toleransi
ISTIMEWA
PENGAWAS ADAT- Bupati Rote Ndao, Lens Haning, mengukuhkan pengawas adat (manoholo) di kabupaten itu belum lama ini untuk mencegah konflik sosial merawat kerukunan di daerah itu. 

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Masyarakat negeri ini menemukan implementasi Bhineka Tunggal Ika di NTT, sebagaimana Pancasila lahir di bumi NTT."
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

KUPANG, POS KUPANG.COM--Para tamu dominan mengenakan busana balutan 'merah putih'. Mereka antusias menikmati semaraknya upacara Detik-detik Proklamasi 2017 di alun-alun Rumah Jabatan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), di Jalan El Tari Kupang, Kamis (17/8/2017) pagi.

Panas menyengat. Para tamu tak beranjak. Menyimak acara demi acara. Menyaksikan seremoni pamungkas. Merdeka! Merdeka! Merdeka! Sang Merah Putih raksasa berkibar menghiasi langit Kota Kupang.

"Amanat inspektur upacara," Master of Ceremony (MC) bersuara lantang. Para tamu serempak duduk. Diam. Inspektur upacara, Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, berpidato. Banyak melitanikan keberhasilannya memimpin tanah Flobamorata (Flores, Sumba, Timor, Alor, dan Lembata) selama 10 tahun terakhir. Mulai dari program Anggur Merah (Anggaran untuk Rakyat Menuju Sejahtera) hingga gebrakan pro-rakyat menjadikan NTT sebagai Provinsi Jagung, Provinsi Cendana, Provinsi Ternak dan Provinsi Koperasi.

Gubernur Frans, putra Adonara, Flores Timur, menakhodai NTT, yang kerap diplesetkan Nanti Tuhan Tolong atau Nasib Tidak Tentu, sejak tahun 2008. Tantangannya berat. Namun politisi PDIP itu tidak menyerah.

Berduet bersama Wakil Gubernur, Ir. Esthon Foenay (2008- 2013) dan Benny Alexander Litelnoni (2013-2018), Frans Lebu Raya, dalam semangat kepemimpinannya yang low profile, pelan tapi pasti, berhasil mengubah NTT menjadi New Tourism Terriroty. NTT menjadi destinasi tujuan wisata baru bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Tepuk tangan hadirin membahana.

Dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, mengakhiri perjalanan tahun 2015, NTT menorehkan sebuah sejarah. Gubernur Frans menerima Kerukunan Hidup Antarumat Beragama Award dari pemerintah pusat di Istana Negara, Rabu (30/12/2015).

Di tengah maraknya isu seputar diskriminasi agama, masyarakat persada ini boleh menengok sejenak ke NTT. Dalam kegersangan ada titik cerah. Di tengah hamparan batu karang ada harapan. NTT terpatri sebagai provinsi yang memiliki teladan, bahkan di dunia, soal kerukunan umat beragama.

"Saudara-saudara, NTT tidak lagi diplesetkan dengan anekdot Nanti Tuhan Tolong atau Nasib Tidak Tentu tetapi Nusa Teladan Toleransi, Nusa Tetap Tentram atau Nusa Terindah Toleransi- nya. Hasilnya, Nikmat Tiada Tara. Ini sangat membanggakan kita," ujar Gubernur Frans disambut tepuk tangan meriah.

Gubernur Frans jedah sejenak. Membiarkan warganya bertepuk tangan mengungkapkan rasa sukacita. "NTT harus menjadi tempat utama yang aman, rukun dan damai. Bebas dari paham radikalisme dan terorisme. NTT toleran terhadap keberagaman satu dalam kenegaraan. Kita terus bertekad mewujudkan NTT sebagai Nusa Terindah Toleransi-nya. Masyarakat negeri ini menemukan implementasi Bhineka Tunggal Ika di NTT, sebagaimana Pancasila lahir di bumi NTT," Gubernur Frans melanjutkan pidatonya. Tepuk tangan membahana lagi.

Halaman
1234
Penulis: Benny Dasman
Editor: Benny Dasman
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved