PosKupang/

Peribahasa Dawan Tmeup On Ate, Tah On Usif, Apa Maksudnya?

Dari pengalaman dan refleksi penulis, penanganan ilmiah terhadap isu-isu kebahasaan bahasa Dawan masih sangat jauh

Peribahasa Dawan Tmeup On Ate, Tah On Usif, Apa Maksudnya?
ilustrasi

Oleh: Antonius Nesi
Mahasiswa Program Magister PBSI Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

POS KUPANG.COM -- Seturut fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi, bahasa Dawan digunakan sebagai alat ekspresi diri antaretnik Dawan di Timor Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bahasa ini bak menyimpan selaksa intan yang masih jarang diasah-kemilau oleh para peneroka bahasa dalam petualangan intelektual.

Dari pengalaman dan refleksi penulis, penanganan ilmiah terhadap isu-isu kebahasaan bahasa Dawan masih sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia.

Persoalan tersebut tidak lepas dari dua isu mutakhir terkait penelitian bahasa (daerah) sebagaimana dikemukakan Sudaryanto (2015:3), yakni (1) kurun penemuan masalah yang terkait dengan ihwal kekaburan fenomen lingual bagi peneliti, dan (2) kurun pemecahan masalah yang terkait dengan ihwal kegenahan fenomen lingual bagi penutur.

Minimnya telaah ilmiah tentang bahasa Dawan juga disebabkan tiadanya terobosan yang lebih inovatif sebagai wujud eksplorasi dan elaborasi yang mendalam tentang bahasa ini dari sisi eksternalnya (makrolinguistik).

Salah satu telaah bahasa dari sisi makrolonguistik ialah kaitan antara bahasa dengan lingkungan. Lawatan tentang telaah model ini bisa dirujuk dari buku The Ecology of Language (Einer Haugen, 1972).

Di dalam bukunya ini Haugen mengkritisi pendekatan linguistik yang selama ini hanya berfokus pada komponen bahasa seperti fonologi, tata bahasa, dan leksikon.

Haugen justru memikirkan suatu "ekologi bahasa" yang merujuk pada kajian yang intens tentang interaksi antara bahasa, penutur, dan lingkungannya, hal mana lingkungan tidak dipahami sebagai lingkungan fisik (alam) melainkan lingkungan dalam arti metaforis, yakni lingkungan etnik yang menggunakan bahasa sebagai kode komunikasi (Haugen, 1972: 325).

Relevansi pendapat Haugen dengan topik ini ialah bahwa sudah saatnya bahasa Dawan perlu ditelisik lebih dalam menggunakan pendekatan makrolinguistik, di antaranya ialah ekolinguistik. Sebab, Haugen berpendapat -sebagaimana versi ekstrem hipotesis Saphir-Whorf tentang relativitas bahasa (Foley, 1997:192-214)-bahasa berada hanya dalam pikiran penuturnya, dan oleh karena itu bahasa dapaat berfungsi apabila digunakan untuk menghubungkan antarpenutur serta penutur dengan lingkungannya.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help