Pater Robert Ramone Menggereja Melalui Budaya

Bagi Pater Robert melalaui budaya dirinya mewartakan injil secara meluas kepada semua orang, bukan hanya umat katolik.

Pater Robert  Ramone Menggereja Melalui Budaya
ISTIMEWA
Pater Robert Ramone,C.Ss.R 

BAGI umat Keuskupan Weetabula dan para pencinta pariwisata, wisatawan, baik domestik maupun manca negara yang tertarik dengan pariwisata Sumba, pasti mengenal sosok ini.

Dia pastor yang selalu mewartakan injil dan ajaran cinta kasih Yesus baik melalui mimbar gereja maupun budaya.

Dia galau melihat rumah adat Sumba yang mulai pudar termakan usia dan tak ada orang yang berinisiatif merenovasi dan melestarikannya.

Dia khawatir suatu saat generasi penerus Sumba tidak mengenal lagi budaya yang diwariskan nenek moyang, karena kemajuan teknologi dan informatika.

Dia gelisah, suatu saat anak-anak Tanah Humba tidak mengetahui cerita asal-usul orang Sumba dan adat istiadatnya.
Menjawab kekhawatiran itu, pastor yang 25 Agustus 2017 ini merayakan 25 tahun imamat, mendokumentasikan melalui karya-karya fotogafinya.

Rumah adat, corak kehidupan masyarakat, tempat-tempat yang menyimpan sejarah, keindahan alam, keunikan corak hidup masyarakat Sumba didokumentasikan secara apik lalu dibukukan.

Dia kemudian mendirikan sebuah wadah yang diberi nama RUMAH BUDAYA SUMBA yang dilengkapi museum dan penginapan bagi tamu dan wisatawan yang berkunjung ke Tanah Humba.

Seperti apa suka dan duka Pater Robert Ramone, C.Ss.R mewartakan dan melestarikan budaya Sumba melalui foto-foto dan museum di RUMAH BUDAYA SUMBA? Ikuti wawancara wartawan Pos Kupang, Gerardus Manyella dengan P. Robert Ramone,C.Ss.R di Rumah Budaya Sumba, bulan lalu.

Apa yang mendorong Pater melestarikan budaya Sumba dengan mendirikan Rumah Budaya Sumba?

Ya, dorongan ini lahir setelah saya menggeluti hobi di bidang fotogafer. Saya melihat Sumba ini memiliki keunikan yang luar biasa yang ditinggalkan nenek moyang kita.

Saya melihat rumah adat Sumba sudah mulai pudar termakan usia dan tidak ada yang terpanggil untuk merenovasi dan melestarikannya. Dari hasil foto itu saya mencoba 'menjualnya' kepada donatur agar mendapatkan uang untuk membantu masyarakat merenovasi rumah adat di kampung-kampung adat yang sudah rusak.

Bersyukurlah Tuhan memberikan jalan dan mengetuk hati para donatur. Banyak donatur yang membantu sehingga uang yang diperoleh dimanfaatkan untuk merenovasi rumah-rumah adat yang rusak dan saat ini rumah-rumah adat itu sudah berdiri kokoh kembali.

Pater ceritakan suka dan duka selama 25 tahun imamat?
Yang pertama sukanya. Kita bekerja di tengah umat dan kita bergaul dengan umat dan ternyata kekeluarga dan persahabatan kita tidak dibatasi oleh satu suku tertentu atau hubungan darah. Itu sukanya. Dan, rasanya pergi di mana saja umat menerima. Sebagai imam konggregasi, saya bisa pergi dari satu pulau ke pulau lain bahkan dari satu negara ke negara lain tanpa berpikir saya harus nginap di mana, makan dan minumnya bagaimana.

Di sana konggregasi yang melayani saya. Dukanya kalau boleh dilihat, tentu saja sebagai pastor yang bertahun-tahun bekerja di desa di Sumba, tentu tidak sama dengan pastor yang bertugas di kota-kota besar seperti Jawa dan kota lainnya, dimana kesadaran umatnya sudah bagus dalam hal kemandirian.

Di sini pastor harus berusaha mencari nafkah sendiri. Tidak cukup dengan uang yang didapat dari keuskupan sekedar uang bensin dengan jumlahnya tidak sampai Rp 1 juta.

Selama bekerja di lembaga keuskupan segala macam harus diupayakan sendiri. Makan minum, pakaian, pondokan harus tanggung sendiri. Bahkan kita sudah begini tapi ada umat yang datang meminta pertolongan. Dan, saya tidak punya untuk menolong umat tersebut.

Waktu saya bertugas di Waikabubak, harus berusaha dengan bekerja di sawah dan memelihara babi. Di tempat ini Rumah Budaya Sumba yang saya dirikan tahun 2010, seluruh proses untuk menghidupi lembaga ini saya harus berjuang sendiri mencari dana.

Tidak ada bantuan, baik dari gereja maupun pemerintah. Material yang ada seperti alang-alang masih berserakan. Sampai sekarang belum ada titik yang menggembirakan akan stabil. Itulah suka dan duka selama 25 tahun saya lewati menjadi pastor.

Untuk Rumah Budaya Sumba sejak kapan didirikan?

Secara fisik tahun 2010. Tapi kalau mimpinya itu sudah beberapa tahun sebelumnya, sejak saya menggeluti dunia fotografi tahun 1992. Lalu saya adakan pameran foto di Jakarta, Yogyakarta maupun luar negeri mendapat penghargaan, cetak buku dan lain-lain tapi tidak cukup.

Ini hanya mengarah pada kebanggaan atau kesombongan pribadi. Oleh karena itu sudah lama saya bermimpi kalau suatu saat saya tidak kuat lagi memikul kamera, saya perlu mendirikan satu lembaga studi dan pelestarian budaya.

Tentu banyak tantangan dari pihak konggregasi persoalkan apa hanya untuk tempat koleksi foto dan lain sebagainya. Lama untuk meyakinkan teman-teman konggregasi.

Bahkan ada yang berpikir saya hanya mau mengoleksi foto-foto dan lain sebagainya. Lama meyakinkan teman-teman untuk setuju. Setuju itu tidak berarti saya mengharapkan uang tapi dukungan.

Dengan adanya dukungan, lembaga ini menjadi milik konggregasi Redemtoris, bukan milik pribadi saya. Jadi kalau saya mati ada yang meneruskan.

Apa tujuan pendirian Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba ini?

Ya, ini menjadi karya yang baik bagi konggregasi mewartakan injil kepada orang-orang yang bukan hanya katolik. Kita berkarya di luar takem sebagai imam yang bergelut dengan liturgi, altar, gereja dan lain-lain tapi gereja saya menjadi luas sekali satu pulau ini. Tapi lambat laun teman-teman mengerti dengan kehadiran lembaga ini. Syukurlah semua ini berjalan.

Pater pernah menggeluti dunia fotografi dan hasilnya bagus sekali, inspirasinya dari mana?

Ada banyak foto yang memang saya sendiri juga terkejut setelah melihat kembali. Sebetulnya bukan inspirasi. Saya belajar secara otodidak. Saya kalau melihat obyek sudah bisa bayangkan kalau masuk frem foto saya hasilnya seperti apa, bagaimana mengatur cahaya dan lain-lain,

Dan, itu saya melakukan secara terus menerus, tidak hanya satu kali. Saya tidak pernah mau yang namanya edit, saya menampilkan foto yang asli. Saya bersyukur punya bidang sendiri, stail sendiri.

Untuk mendapatkan foto yang baik, banyak tantangan. Taruhannya nyawa. Saya contohkan saat memotret Tanjung Sasar yang tidak ada jalan.

Saya paksa mobil masuk di jalan batu-batu untuk mendapatkan foto yang bagus. Kedua saya foto kuburan di tengah laut Samudera Hindia, ombaknya besar hanya berdua menggunakan perahu kecil yang gulungan ombaknya cukup tinggi. Tapi saya tidak takut, bahkan saya ingin mati dengan kamera. Saya juga memotret gunung Rinjai.

Di luar negeri saya memotret di gunung Sinai, tempat musa berbicara dengan Tuhan. Saya juga ingin tidak hanya pengalaman iman, tapi dokumentasinya.

Apa yang mendoronga Pater melestarikan budaya Sumba?

Tentu dari pengalaman fotogafi. Saya keliling dari kampung adat yang satu ke kampung adat yang lain. Saya melihat orang muda sudah berkurang mencintai budaya Sumba.

Saya melihat rumah adat Sumba berganti menjadi atap seng. Saya punya kebanggaan melihat rumah Sumba yang tinggi megah dengan atap alang-lang yang alami dan punya mistisnya. Ini yang mendorong saya mendirikan lembaga studi dan pelestarian budaya Sumba.

Wadah ini untuk meyakinkan pihak sponsor. Dan, ini terbukti setelah lembaga ini terbentuk sudah ada pembangunan kembali rumah-rumah adat di dua desa di Ratengaro dan di Sumba Timur. Di Ratenggaro rumah adatnya sangat spektakuler dan bersejarah.

Rumah induk yang tingginya 35 meter yang hanya diikat dengan tali, tidak ada paku. Sejak lembaga ini didirikan sudah ada 125 rumah adat di seluruh pulau Sumba yang kita bangun kembali. Lembaga ini memfasilitasi donatur untuk membantu. Ini yang membuat saya menerima penghargaan.

Selain rumah adat, apalagi yang dilakukan untuk melestarikan budaya Sumba?

Saya juga mendirikan sanggar tari gedungnya di Lambanapu, Waingapu, bantuan donatur swasta Yayasan Tirto Utomo Jakarta. Gedungnya, sedangkan sanggar tari ada 15 di seluruh Sumba.

Kita cukup proaktif dan hasilnya cukup nampak. Tapi kita ingin maju terus, kendalanya kita lembaga swasta, terkadang hampir kehabisan nafas. Kita tidak mau budaya ini hanya berhenti di bangunan mati, tapi orangnya.

Kita bentuk sekolah pelestarian budaya kita beri nama Sepeda (sekolah pelestarian budaya). Kita kumpulkan anak-anak, kita didik tentang budaya Sumba.

Kita harapkan anak-anak ini menjadi pelestari budaya yang baik. Kalau orang besar agak sulit, ibarat pohon yang tua tidak bisa dibengkokkan. Semuanya gratis.

Pater juga mendirikan museum, tempat koleksi barang-barang bersejarah, dari mana mendapatkan barang-barang antik itu?

Pertama berjuang sendiri. Saat keliling memotret saya mengumpulkan barang-barang antik ini.

Juga dari Keuskupan Weetabula yang punya koleksi barang antik.

Yang menarik barang-barang antik ini baku panggil, kalau ada yang berkunjung ke sini mengatakan, oh yang ini saya punya ,saya sumbangkan ke sini. Ini menambah inventaris barang antik di tempat ini.

Selain lembaga studi kebudayaan, Pater juga mendirikan tempat penginapan. Apa yang mendorong Pater melakukan ini?

Ini pikiran saya. Saya orang yang paling berbahagia di jagat raya ini. Saya ke Jakarta menyampaikan terima kasih kepada ibu yang membantu biaya mendirikan rumah budaya.

Ibu ini menantang saya untuk berusaha berdagang agar museum ini bisa dihidupi. Saya mulai berpikir bagaimana caranya? Lalu saya membangun bungalo tahun pertama satu dan sampai tahun ketujuh sudah tujuh rumah.

Saya juga berpikir pengembangan vila di Weekelo. Tidak hanya penginapan tapi juga restoran. Syukurlah sudah bisa berjalan, walau tidak fait. Saat-saat tertentu tidak ada tamu, ya kita harus irit. Kita hidup betul-betul dari harapan saja.

Animo masyarakat terhadap penginapannya?

Kita terus promosi tapi ya, terkadang belum. Animo dari luar bagus. Orang semakin kenal, bahkan ada yang bilang belum lengkap kalau datang di Sumba belum datang di Rumah Budaya Sumba. Tamu dari luar dan luar negeri cukup animo menginap di Rumah Budaya Sumba.

Pater juga sering menulis buku, sudah berapa buah yang diterbitkan?

Pertama buku kumpulan foto-foto, judulnya Sumba Pulau yang terlupakan yang ditulis dalam tiga bahasa. Buku ini cukup mendapat sambutan di luar negeri. Buku ini tidak hanya foto- foto saya, tapi ada penjelasannya supaya ada yang bisa melakukan penelitian. Buku ini menjadi resume menampilkan apa saja yang ada di Sumba.

Saya tulis tidak detail, tapi umum dengan tujuan ada yang melakukan penelitian. Berikut buku tentang Revitalisasi Desa Adat dan Dampak Sosial Budaya di Sumba, buku yang ditulis bersama delapan orang, buku tentang Rumah Budaya Sumba yang ditulis secara detail dengan penjelasan soal nilai-nilai dan makna semua ornamen yang ada.

Sejarahnya bagaimana, pesan dan maknanya. Apakah barang mati yang dikumpulkan saja, atau ada maknanya sehingga museum ini bukan hanya debu yang dikumpulkan tapi menjadi api yang memberikan inspirasi.

Apa pesan Pater kepada generasi muda?

Setiap orang harus mencintai budayanya. Setiap orang lahir dan dibesarkan di atas fondasi nilai, entah sebagai orang Sumba atau suku lainnya.

Tradisi dan nilai ini yang harus kita wariskan. Saya berharap setiap orang mencintai nilai budayanya sendiri dan budaya orang lain. Di sini ada toleransinya.

Kita tidak melestarikan agama Marapu tapi nilai-nilainya. Nilai itu kristalisasi, sinar yang memberikan hidup yang lebih baik. itu pesan saya.

Penulis: Gerardus Manyela
Editor: Gerardus Manyela
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help