Surat Cinta untuk Indonesia, Ini Goresan Mahasiswa Undana Kupang

Perbedaan menjadi pemersatu ketika pasang surutnya lautan menjadikan semua orang sebagai saudara walaupun terlahir

Surat Cinta untuk Indonesia, Ini Goresan Mahasiswa Undana Kupang
ist
Bendera Nasional Indonesia

Oleh: Mario Djegho
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Undana Kupang

POS KUPANG.COM - Sudah 72 tahun bangsa ini berlayar mengarungi lautan samudera usia dengan dinamika pasang surutnya. Banyak kisah terukir dalam benak para penumpangnya yang terbalut keragaman atas nama nusantara.

Perbedaan menjadi pemersatu ketika pasang surutnya lautan menjadikan semua orang sebagai saudara walaupun terlahir atas nama rahim yang berbeda. Itulah realitas bangsa ini yang begitu dinamis, harmonis, dan estetis.

Semua terkemas indah dalam identitas Negara Kesatuan Republik Indonesia dan diperkokoh oleh cengkraman Sang Garuda yang seraya mengangkasa dalam manifestasi Bhineka Tunggal Ika. Itulah Indonesia dan itulah tanah air beta yang begitu mempesona dan mengharumkan lingkaran dunia.

Jauh di ufuk timur saya (penulis) terus berefleksi tentang eksistensi bangsa Indonesia sebagai tanah tumpah darah. Saya mencintai negeri ini dengan gugusan ribuan pulaunya dan kerekatan kebudayaannya yang terbentang jauh dari Sabang sampai Merauke.

Saya selalu bermimpi tentang bangsa ini, tentang keindahan alamnya dan perdamaian antar masyarakatnya. Maka dari itu, atas nama Merah Putih saya ingin menulis sebuah surat cinta untuk Indonesia sebagai kerinduan akan masa depan yang lebih baik.

Tanah Indonesia dianugerahi begitu banyak potensi alami yang bisa dimanfaatkan untuk keberlangsungan hidup seluruh rakyat Indonesia.

Luasnya lautan yang membelah ribuan gugusan pulau menjadikan bangsa ini sebagai bangsa maritim. Hal itu bukanlah sebuah kebetulan belaka ketika sejarah membuktikan bahwa nenek moyang kita adalah pelaut.

Keagungan masa lalu telah memberikan begitu dalam narasi melankolis tentang kejayaan bangsa Indonesia di mata dunia.

Namun kini semua kisah sejarah hanyalah pemanis belaka ketika realitas masa kini menghadirkan sejuta paradoks yang terlalu pahit untuk dirasakan ketika alam hanya mampu menitikan air matanya.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help