Kisah Terpidana Mati Rayakan HUT Kemerdekaan RI: Di Tempat Sempit Kami Merdeka

Selama menghuni tahanan, Herman tak bisa mendapatkan pengurangan masa hukuman karena statusnya sebagai terpidana mati.

Kisah Terpidana Mati Rayakan HUT Kemerdekaan RI: Di Tempat Sempit Kami Merdeka
POS KUPANG/EGY MO'A
Herman Jumat Masan, terpidana mati di Rutan Maumere, memeriahkan HUT Kemerdekaan RI dengan ikut bermain angklung, Kamis (17/8/2017). 

Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Eginius Mo'a

POS-KUPANG.COM, MAUMERE - Memasuki  tahun kelima menghuni Rumah  Tahanan  Negara  (Rutan) Kelas III Maumere,  terpidana  mati kasus pembunuhan, Herman Jumat Masan, merayakan  HUT ke-72 Kemerdekaan  RI, Kamis  (17/8/2017).

Selama menghuni tahanan,  Herman tak bisa mendapatkan pengurangan masa hukuman karena statusnya sebagai terpidana mati.

“Saya tidak  dapatkan remisi, karena status saya terpidana mati. Saya  hanya mengharapkan   dilakukan peninjauan kembali  hukuman mati,”  ujar  Herman kepada Pos Kupang,  Kamis siang.

Herman,  yang divonis  bersalah membunuh Meri  Grace bersama dua bayinya,  hadir  bersama warga binaan menyambut penyerahan remisi yang dilakukan Bupati  Sikka, Drs. Yoseph Ansar Rera, di  halaman Rutan Maumere. 

Mantan  rohaniwan ini bersama  warga  binaan yang lain memainkan angklung menghibur Wakil Bupati  Sikka, Drs.  Paolus Nong  Susar, anggota Forkopimda, Wakil Ketua  DPRD Sikka,  Donatus  David, S. H, dan puluhan undangan.

Kapala Rutan,  Hudi Ismono, tersenyum menyaksikan  kepiawaian  warga binaannya.

Sebanyak  68  warga  binaan memperoleh  remisi  pada HUT Kemerdekaan  RI.  Yang terbanyak mendapat remisi satu bulan  27 orang dan tiga bulan 24  orang,  dua bulan 11 orang, empat bulan empat orang dan lima bulan satu orang.

Menurut Herman,  kemerdekaan  bukan  soal tempat,  tetapi situasi  batin. Di  tempat sempit (Rutan),  ruang  gerak mereka terbatas,   tetap  semuanya bisa merayakan kemerdekaan.

Diterimanya  peninjauan kembali atas hukumannya, Herman  mengharapkan  vonis hukuman mati  yang dijatuhkan kepadanya ditinjau  kembali.

Pasukan Pengibar Bendera Merah Putih membawa duplikat bendera untuk dikibarkan para perayaan HUT Kemerdekaan  RI, Kamis  (17/8/2017) di Lapangan Kota Baru Maumere.
Pasukan Pengibar Bendera Merah Putih membawa duplikat bendera untuk dikibarkan para perayaan HUT Kemerdekaan RI, Kamis (17/8/2017) di Lapangan Kota Baru Maumere. (POS KUPANG/EGY MOA)

Menurut  Herman, hakim bisa keliru menjatuhkan putusan dan ia mengajukan novum (fakta baru), tutup botol infus.   

“Yang saya inginkan adalah cerita benar kasus ini, yang jadi  tiang topang kasus keadilan. Karena tanpa cerita kebenaran pada posisinya, keadilan  tidak bisa  hadir,” ujar Herman. 

“Saya  ajukan novum dan juga kekeliruan hakim.  Karena novum tidak dihadirkan dalam sidang sebelumnya.  Barang bukti tutupan jarum  infus,  ada dalam penyidikan, tetapi dalam persidangan dikeluarkan. Tetapi bagus ada oknum polisi yang berpihak  pada kebenaran simpan barang ini,” kata  Herman.

Herman  mengakui bersalah atas  kasus  kematian, tetapi bukan pembunuhan berencana. Ia  mengharapkan cerita benar dan putusan yang adil. (*)

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Agustinus Sape
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help