Apa Benar Kehadiran Najwa Shihab Menjadi Pemicu dan Pemacu Minat Baca di NTT?

Jika ini terjadi, maka apa yang dilakukan Tantowi Yahya sebagai Duta Baca Indonesia beberapa tahun lalu juga akan bernasib sama.

Apa Benar Kehadiran Najwa Shihab Menjadi Pemicu dan Pemacu Minat Baca di NTT?
POS KUPANG/FRANS KROWIN
Warga berjubel menyambut kedatangan Duta Baca Indonesia Najwa Shihab di Lewoleba, Sabtu (12/8/2017). 

POS KUPANG.COM -- Kehadiran Presenter Najwa Shihab di NTT pekan lalu, merupakan kabar baik dan semestinya menjadi pemicu sekaligus pemacu bagi masyarakat dan pemerintah di NTT untuk membumikan ide-ide meningkatkan minat baca di masyarakat NTT.

Kehadiran Najwa di NTT semestinya tidak sekadar kemeriahan acara seremonial belaka dan setelah dia tinggalkan NTT maka ide atau gagasan yang ditinggalkannya juga lenyap.

Jika ini terjadi, maka apa yang dilakukan Tantowi Yahya sebagai Duta Baca Indonesia beberapa tahun lalu juga akan bernasib sama. Seremonialnya lebih penting dari ide utamanya, setelah itu lenyap.

Catatan penting dari kehadiran Nana (Najwa Shihab) di Lembata, Sabtu (12/8/2017) lalu adalah, menumbuhkan semangat membaca di kalangan masyarakat jangan dibuat dalam bentuk program pemerintah tetapi dibuat dalam bentuk gerakan.

Mengapa? Sebab ketika dibuat dalam bentuk program maka ketergantungan terhadap anggaran tentu akan mencuat. Apalagi, jajaran birokrasi kita masih sangat kuat dan kental serta gemar berkreasi dengan hal-hal yang berbau proyek.

Sementara ketika ini menjadi gerakan maka kesadaran wargalah yang disentuh dengan terus memompa kesadaran warga terhadap pentingnya atau manfaat dari membaca. Membaca hendaknya menjadi gaya hidup dari orang NTT termasuk seluruh warga Indonesia. Sebab membaca itu jendela dunia.

Ketika membaca sudah menjadi bagian dari gaya hidup warga maka ketergantungan terhadap bahan bacaan itu akan sangat tinggi. Apa saja akan dibaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

Guna menumbuhkan minat baca masyarakat maka peran keluarga tidak bisa dianggap sepele.

Gerakan untuk membaca itu harus diawali dan dimulai dari setiap keluarga. Kesadaran setiap keluarga harus terus menerus disentuh sehingga membaca menjadi kebiasaan sejak dini di keluarga.

Harus diakui, selama ini, kita baru "memaksa" anak belajar ketika masuk SD. Padahal cara memaksa anak pada level itu sudah terbilang terlambat.

Semestinya ketika anak masih berusia belia harus sudah diperkenalkan tentang buku, kendati anak belum bisa membaca atau menulis. Tetapi paling tidak, anak sudah diperkenalkan yang namanya buku.

Fatalnya, selama ini orang tua tidak memberi contoh yang konkrit. Jika anak disuruh membaca apa saja, sementara orangtua asyik menonton televisi atau gemar bergosip ria.

Pola-pola seperti inilah yang tidak mendukung minat baca pada anak atau tidak adanya keinginan untuk menjadikan minat baca sebagai gerakan. Anak dibiarkan membaca tetapi buku-buku tidak disiapkan.

Oleh karena itu kita tentunya mendukung bagi siapa saja yang berniat untuk membangun pondok baca atau apapun namanya hingga ke tingkat desa.

Cara ini mungkin menjadi satu upaya untuk mendekatkan anak dan orangtua dengan buku-buku.*

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved