Komunitas Ini Ada di Pedalaman Timor, Penggagasnya Anak Muda Hebat, Aktivitas Mereka Menakjubkan

Setahun bergiat bersama warga dan para relawan, mereka maknai sebagai kesempatan untuk belajar dan bertumbuh bersama

Komunitas Ini Ada di Pedalaman Timor, Penggagasnya Anak Muda Hebat, Aktivitas Mereka Menakjubkan
ISTIMEWA
Para remaja yang aktif di Komunitas Lakoat Kujawas pamerkan hasil karya mereka dalam pameran bertitel Mollo Panggil Pulang. Pameran berlangsung tanggal 12-17 Agustus 2017. 

POS KUPANG.COM, KAPAN -- Setahun sudah komunitas Lakoat Kujawas bertumbuh bersama warga di Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Lakoat Kujawas digagas oleh Dicky Senda, penulis dan pegiat komunitas asal Mollo 10 Juni 2016, di kampung halamannya Desa Taiftob bersama dengan warga desa khususnya anak dan kaum muda, belasan orang relawan muda dari Kapan, SoE dan Kupang.

Nama Lakoat Kujawas  diambil dari dua nama buah yang selalu lekat dengan memori masa kecil anak-anak Mollo: lakoat atau loquat atau buah biwah dan kujawas atau jambu biji. Nama tersebut merepresentasikan mimpi dan harapan generasi muda untuk hidup lebih baik, dimulai dari kampung halaman.

Lakoat Kujawas sebagaimana ditulis Dicky Senda dalam rilis yang diterima Pos Kupang, Senin (14/8/2017), mengintegrasikan komunitas kesenian dengan perpustakaan warga, ruang arsip dan kerja kolaborasi dan kewirausahaan sosial (social enterprise), berkolaborasi dengan petani dan perempuan penenun Mollo.

Penggagas dan Pendiri Komunitas Lakoat Kujawas, Dicky Senda bersama para remaja yang aktif dalam komunitas tersebut.
Penggagas dan Pendiri Komunitas Lakoat Kujawas, Dicky Senda bersama para remaja yang aktif dalam komunitas tersebut. (ISTIMEWA)

Tujuannya, melalui kesenian, literasi dan kewiraan sosial generasi muda Mollo mampu berkreativitas, mengembangkan diri dan potensi yang ada di lingkungan mereka.

Setahun bergiat bersama warga dan para relawan, mereka maknai sebagai kesempatan untuk belajar dan bertumbuh bersama dalam semangat kerja kolaborasi dan solidaritas.

Semangat inilah yang mendorong lahirnya proyek workshop fotografi `Ketong Bisa' yang melibatkan 15 remaja desa Taiftob dengan teman-teman fotografer dari SekolahMUSA dan Gadgetgrapher Kupang.

Selama enam pekan para remaja ini belajar teknik dasar dalam fotografi dan berkesempatan untuk berkeliling kampung halaman mereka, mewawancarai warga dan membuat foto dengan pendekatan foto bercerita (photo story).

Para relawan ini sepakat bahwa lewat kesempatan belajar fotografi, kelima belas remaja ini bisa mengenal diri mereka sendiri, mengenal kampung halaman secara lebih dekat, menyadari segala potensi yang ada dan bagaimana segala sesuatu yang datang dari kampung halaman mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan identitas yang kuat sebagai generasi muda Mollo.

Diakhir program, para remaja dan pengajar sepakat untuk membuat sebuah pameran foto yang bisa menampilkan karya mereka. Tidak hanya foto namun juga cerita di balik pembuatan foto-foto tersebut.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved