PosKupang/

Warga Translok Lainbaru Ambil Air Sekitar Delapan Kilometer dari Rumah

Ini menderitanya warga translok yang tinggal di lokasi Lainbaru, Kabupaten Sumba Timur

Warga Translok Lainbaru Ambil Air Sekitar Delapan Kilometer dari Rumah
Pos Kupang/Robert Ropo
Bak air yang mubazir di translok Lainbaru, Sumba Timur 

Laporan wartawan Pos Kupang, Robert Ropo

POS KUPANG.COM, WAINGAPU - Sebanyak kurang lebih dua ratus orang kepala keluarga (KK) sebagai warga transmigrasi lokal (Translok) yang menghuni pemukiman perumahan Transmigrasi Lainbaru di desa Laindeha kecamatan Pandawai kabupaten Sumba Timur kini menderita kekurangan air bersih.

Warga Translok Lainbaru, Pinus Bipalai ketika ditemui Pos Kupang di lokasi Translok itu, Sabtu (12/8/2017) sore mengatakan, awalnya setelah dibangun air bersih tersebut berjalan normal dan semua warga di perumahan Translok itu baik di blok A, B, C, D, E dan blok F, mendapatkan pasokan air yang sangat cukup.

Namun mulai bulan Juni tahun 2017 ini air bersih tersebut debit air menjadi berkurang sehingga tidak keluar pada setiap jam, namun air keluar kadang pada siang hari dan kadang pada malam hari.

Bipalai mengatakan, air yang keluar itu pun bukan di semua blok di perumahan. Air hanya bisa keluar itu sedikit di blok A, B dan blok D, sementara di blok C, E dan blok F tidak berjalan air sudah lama.

"Air jalan ini juga hanya jalan di tiga blok ini itu juga airnya kecil sekali dan tidak keluar setiap hari juga. Sementara di tiga blok itu, tidak jalan air memang. Kami menderita begini mulai bulan Juni 2017 ini," ungkap Bipalai.

Bipalai juga mengatakan, karena tidak jalanya air tersebut sebagian warga terpaksa membeli dengan harga mahal, sementara bagi warga yang tidak memiliki uang terpaksa berjalan kaki sejauh sekitar 8 kilometer untuk mengambil air bersih di mata air.

Selain itu, Bipalai juga mengaku tidak jalanya lagi air tersebut mereka tidak bisa lagi menanam sayuran, sehingga merekapun terpaksa membanting stir untuk mencari pekerjaan lain untuk bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka.

"Kalau air berjalan normal maka kami biasa tanam sayuran, tapi karena air sekarang sudah tidak jalan lagi, maka saya kerja pukul batu untuk jual," ungkap Bipalai.

Bipalai mengatakan, menurut informasi yang diperoleh air menjadi berkurang karena memang debit air berkurang mulai dari sumber air.

"Kalau hujan baru air banyak kalau tidak hujan maka air kecil begini dan lama-lama air mati," ungkap Bipalai. (*)

Penulis: Robert Ropo
Editor: marsel_ali
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help