PosKupang/

Beginilah Solusi Terbaik Atasi Level Pendidikan Guru di NTT

Hadirnya UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 bukannya tanpa maksud mulia. UU ini lahir dari cita-cita pemerintah

Beginilah Solusi Terbaik Atasi Level Pendidikan Guru di NTT
Net
Ilustrasi

POS KUPANG.COM - Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Aloysius Min, mengungkapkan kondisi faktual pendidikan guru di daerah ini.

Berdasarkan data, hingga tahun 2017 masih 31,45 persen guru di NTT belum berpendidikan sarjana (S1). Padahal, sesuai UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005, seharusnya akhir 2015 seluruh guru harus sudah sarjana (S1).

Hadirnya UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 bukannya tanpa maksud mulia. UU ini lahir dari cita-cita pemerintah untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas di masa depan.

Pemerintah berasumsi untuk menghasilkan SDM siswa yang baik, maka SDM guru dan dosennya terlebih dulu harus baik. Salah satu caranya dengan meningkatkan jenjang pendidikan guru dan dosen.

Jika para siswa di negeri ini dididik atau diajari oleh guru yang pendidikannya baik maka sudah tentu akan melahirkan anak didik yang berkualitas.

Apabila ini yang menjadi pertimbangannya, mengapa hingga tahun 2017 masih ada sepertiga dari jumlah guru di Provinsi NTT yang belum berpendidikan S1? Padahal sesuai ketentuan UU, target itu harus tercapai tahun 2015 lalu.

Lantas, siapa yang harus disalahkan, guru yang belum berpendidikan S1 atau Pemprov NTT yang menjabarkan target sesuai UU?

Sebagai pihak yang memiliki program dan pihak yang paling bertanggungjawab, pemerintah (NTT) semestinya mendorong para guru yang belum berpendidikan S1 untuk mengikuti pendidikan S1 setelah program itu muncul.

Tak hanya mendorong para guru, pemerintah juga harus menyiapkan biaya pendidikan bagi para guru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1.

Dengan menyiapkan biaya pendidikan, para guru yang belum berpendidikan S1 bisa lebih bersemangat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Selain mengikuti pendidikan formal, pemerintah juga harus mewajibkan para guru mengikuti program peningkatan keprofesian melalui aneka pelatihan.

Pentingnya pelatihan berkaitan dengan keprofesian karena pendidikan tinggi yang dimiliki seseorang tidak menjamin bisa mencetak siswa berprestasi.

Banyak orang yang berpendidikan tinggi tidak mampu mentransfer ilmunya kepada orang lain atau siswanya. Sementara ada orang yang pendidikannya pas-pasan mampu mentransfer ilmu kepada siswanya sehingga siswa bisa memahami.

Karena itu, dalam konteks upaya peningkatan kualitas anak didik, selain menekankan pentingnya pendidikan formal melalui lembaga pendidikan, juga perlu diselenggarakan pelatihan-pelatihan demi meningkatkan kompetensi para guru dalam mentransfer ilmu kepada siswa.

Jika kedua hal ini berjalan bersamaan, cita-cita menghasilkan siswa berprestasi niscaya akan tercapai. *

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help