PosKupang/

Kisah Pilu di Marilona

Hasil El Tari Memorial Cup 2017 Dibatalkan? Ini Catatan untuk PSSI NTT

Tidak membahas siapa salah dan siapa yang mesti bertanggungjawab karena itu butuh investigasi dan kejujuran bersikap

Hasil El Tari Memorial Cup 2017 Dibatalkan? Ini Catatan untuk PSSI NTT
ISTIMEWA
Kondisi Stadion Marilonga Ende pascakercihan laga final antara Perse Ende vs PSN Ngada, Rabu (9/8/2017) malam. 

POS KUPANG.COM - Luar biasa! Itu kalimat yang tepat dialamatkan kepada Pemkab Ende bersama Askab PSSI Ende. Merencanakan pelaksanaan El Tari Memorial Cup 2017 dengan matang, Perse Ende dinyatakan keluar sebagai sang kampiun turnamen tertinggi dalam kasta sepakbola NTT ini.

Sudah usai pesta sejak 22 Juli 2017. Namun buntutnya masih menjadi topik pembicaraan. Kericuhan pada laga puncak Perse vs PSN Ngada, Rabu (9/8/2017) malam menjadi viral di media sosial, bahan diskusi di rumah, warung kopi, di kantor bahkan di jalanan.

Persiapan lapangan yang mewah, seremoni pembukaan yang luar biasa ternoda oleh kericuhan akibat salah urus di partai puncak. Pertandingan hanya bergulir selama 59 menit.

Tidak membahas siapa salah dan siapa yang mesti bertanggungjawab karena itu butuh investigasi dan kejujuran bersikap, namun setidaknya ada beberapa catatan dari penyelenggaraan El Tari Memorial Cup 2017 yang baru saja berakhir.

Pertama, ini merupakan kali pertama Nusa Tenggara Timur (NTT) menyelenggarakan kompetisi Liga 3. Kedua, ini merupakan El Tari Memorial Cup pertama yang pertandingannya digelar di lapangan sepakbola yang bagus dilengkapi lampu sehingga pertandingan bisa berlangsung pada malam hari.

Keempat, antusiasme masyarakat menyaksikan langsung pertandingan itu di Stadion Marilonga Ende maupun lewat layanan live streaming luar biasa, menandakan kalau sepakbola NTT sedang bergeliat hebat.

Catatan berikutnya adalah tentang pelaksanaan pertandingan. Karena ini Liga 3, Persemal Malaka yang belum tercatat di PSSI sebagai klub profesional, seharusnya belum boleh ikut.

Sejak kick off pembukaan yang ditandai tendangan pertama oleh
Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, sudah menuai protes dari ofisial. Aturannya, setelah pejabat menendang bola pertama, wasit wajib mengulang kick off yang harus dilakukan oleh pemain.

Catatan berikutnya adalah soal jadwal pertandingan. Tak ada jedah waktu antara semifinal dan final. Partai final pun berlangsung tanpa greget karena pemain sudah kehabisan stamina terutama PSN Ngada yang masa istirahatnya sangat pendek.

Mengapa panitia dan Asprov PSSI NTT sebagai penanggungjawab tak mempertimbangkan faktor itu.

Setelah turnamen ini bagaimana langkah selanjutnya. Apakah Perse Ende tetap direkomendasikan PSSI untuk lolos ke putaran berikut mewakili NTT? Bagaimana dengan pernyataan PSSI Pusat yang akan menginvestigasi kasus yang terjadi di babak final Rabu mala lalu?

Hasil investigasi yang objektif dinantikan seluruh masyarakat NTT agar kisah pilu Marilonga 2017 diurai sejelas-jelasnya.

Yang pasti ETMC 2017 di Ende sudah masuk catatan sejarah sepakbola NTT. Main malam hari. Menggelar Liga 3 dan pertama kali babak final tak bergulir hingga tuntas. Malulah kita sepakbola NTT terus terpuruk karena salah urus.*

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help