Ntaram dalam Lipatan Sorban Pluralisme, Keharmonisan yang Mengagumkan di Flores

Pasalnya, pasca reformasi, lahar SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan) menjalar dan membakar tubuh Indonesia yang

Ntaram dalam Lipatan Sorban Pluralisme, Keharmonisan yang Mengagumkan di Flores
ILUSTRASI

Oleh: Marsel Robot
Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Undana

POS KUPANG.COM --Gara-gara hendak menyelesaikan disertasi di Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Bandung), Profesor Deddy Muliyana,M.A. Prof. Magiz Suseno, SJ. Prof. Herman Soewardi, M.S. menyuruh saya ke Ntaram untuk studi peradaban komunikasi masyarakat berbeda agama.

Pasalnya, pasca reformasi, lahar SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan) menjalar dan membakar tubuh Indonesia yang begitu tambun dengan keragaman. Sebut saja, kasus Ambon, Poso, Ketapang, Kupang, Mataram, Sampit dan masih banyak lagi kasus lain yang menyodorkan bukti bahwa pluralitas lebih memperlihatkan sebilah belati dari pada setangkai mawar melati di taman Indonesia.

Tiga empu ilmu ini sepertinya lagi resah, setidaknya risih dengan konflik komunal berlatar agama yang mencekam saat itu. Terasa keragaman di Indonesia terendam dalam sekam bom waktu. Mereka membekali saya ke Ntaram dengan sepotong pertanyaan tesis: Benarkah pluralitas meyebabkan polaritas sosial? Tahun itu, awal 2006, atas bantuan dana lembaga Penelitian (litbang) Harian Kompas, saya ke Ntaram untuk menetap di sana selama delapan bulan. Sengaja hidup lama di sana agar saya tidak sekedar mengumpulkan data, tetapi harus mengalami, menyelami, dan menyingkap romantika kehidupan orang Ntaram.

Ntaram adalah kampung yang jauh dan sunyi, di lereng Golo Ngawan, pedalaman Manggarai Timur, Flores. Jarak dari Ruteng (ibu kota Kabupaten Manggarai) 58 km. Jarak dari Borong ibu kota Kabupaten Manggarai Timur kurang lebih 66 km. Jarak itu ditempuh selama 3,5 jam dengan bus atau colt yang mengarungi jalan aspal yang rusak. Pada lereng Ngawan seluas 480 ha itu hidup sejumlah 2.164 penduduknya.

Komunitas ata sili mai wae (orang dari pantai) sebagai konotasi komunitas Muslim mempunyai dua masjid, satu mushola dan satu madrasah. Sedangkan ata le mai tana golo (orang dari gunung-pedalaman) sebagai konotasi komunitas Kristen Katolik mempunyai tiga gereja.

Ntaram terkesan eksentrik bukan saja karena letaknya khas di antara dua jurang dan kampung yang membentang sepanjang tebing Golo Ngawan, rumah-rumah bagai menempel pada punggung bukit, memancarkan elok alami dengan pohon kopi, cengkeh dan coklat menyapa mentari pagi.

Lebih dari itu, Ntaram adalah mozaik sinkretisme unik delapan suku (Suku Mbaru Mese, Suku Mbaru Bongko, Suku Mbaru Labal, Suku Mbaru Weli, Suku Mbaru Cangge, Suku Mbaru Golo, Suku Mbaru Munta, Suku Mbaru Ajang Cengi) dan dua komunitas agama yakni ata sili mai wae dan ata le mai tana golo. Kedelapan suku itu menyebar membentuk kampung-kampung kecil dengan namanya sendiri-sendiri, tetapi selalu melegitimasi diri sebagai orang Ntaram.

Perjumpaan perbedaan agama di Ntaram memunculkan sinkretisme unik dan membentuk perilaku sosial tipikal. Bagi orang Ntaram, menjalani dan mengalami perbedaan dalam perjumpaan rutin (setiap hari) adalah usaha laten untuk membentuk sejumlah nilai, norma, konvensi dan kode bersama. Semua perangkat peradaban itu diorientasikan untuk keharmonisan sosial.

Sorban Unifikasi
Salah satu unsur yang menjadi "sorban" atau pengikat, sekaligus pelindung unifikasi antara ata sili mai wae (Islam) dan ata le mai tana golo (Katolik) adalah kesadaran ca na'ang agu ca wa'u (saudara sedarah) baik dalam pengertian geneologis maupun sosiologis.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved