PosKupang/

Malaria Masih Menjadi Masalah Besar Dunia

Indonesia merupakan satu di antara negara yang masih terjadi transmisi malaria dengan angka kesakitan yang cukup tinggi

Malaria Masih Menjadi Masalah Besar Dunia
POS KUPANG/GORDI DONOFAN
Dr. Pius Weraman, S.KM.,M.Kes, Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia Cabang NTT, saat memberikan materi tentang Malaria di harapan peserta, Selasa (8/8/2017). Ket:Peserta sedang mendengarkan materi 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Gordi Donofan

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Berdasarkan data yang dilaporkan World Health Organization (WHO), pada tahun 2013 sebanyak 3,4 miliar penduduk dunia memiliki risiko menderita malaria dan 104 negara merupakan daerah endemis malaria terutama di Afrika dan Asia Tenggara.

Indonesia merupakan satu di antara negara yang masih terjadi transmisi malaria dengan angka kesakitan yang cukup tinggi dimana Annual Parasite Incidence (API) berfluktuasi.

Hal ini dikemukakan oleh Dr. Pius Weraman, S.KM., M.Kes, saat memberikan materi seminar tentang Pengembangan Indeks Klinis Epidemiologi Malaria Untuk Kader Kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, di Ballroom Sotis Hotel, Selasa (8/8/2017).

Menurut Dr. Pius Weraman, API pada tahun 2010 sebesar 1,69%/229.819 kasus, tahun 2011 sebesar 1,75%/256.592 kasus dan tahun 2012 sebesar 1.69%/417.819 kasus (Kemenkes RI, 2013).

Menurut data dari Dinas Kesehatan tahun 2012, angka API 29,56%. Tahun 2013 API sebesar 18,86% dan tahun 2014 API 14,82%. Dan di NTT API menjadi urutan kedua setelah Papua dengan API yang tinggi.

"Jika dibandingkan dengan standar nilai API menurut WHO (standar maksimum API < 5%), maka hampir semua kabupaten/kota masih merupakan daerah yang memiliki tingkat endemisitas tinggi. Ini data Dinkes NTT 2015," jelas Dr. Pius.

Dr. Pius melanjutkan, permasalahan dalam penanganan kasus malaria di Provinsi NTT sangat kompleks, antara lain, kurangnya tenaga analis kesehatan atau tenaga mikroskopis sehingga ini menjadi keterbatasan dalam mendeteksi malaria.

Lanjutnya, diagnosis dini, pengobatan cepat dan tepat, surveilans dan pengendalian vektor belum dilakukan secara optimal.

Permasalahan lain, kata Dr. Pius, sistem penemuan kasus malaria oleh petugas kesehatan di tingkat Puskesmas secara pasif yang tidak dapat mengkaji secara menyeluruh semua kasus yang terjadi di wilayah kerja.

"Kenapa persoalan ini kami angkat, karena dilihat dari tenaga analis kesehatan, memang sangat kurang untuk di tingkat Pustu dan Polindes. Sehingga dengan klinis ini, bisa membantu kader untuk bisa melakukan deteksi dini. Jadi deteksi dini ini kita peruntukkan kader, bukan untuk tenaga kesehatan dan juga untuk daerah-daerah terpencil," kata Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Undana Kupang ini.

Ketua Panitia Dr.Imelda Manurung (kanan) saat hendak memberikan cendramata kepada para pemateri.
Ketua Panitia Dr.Imelda Manurung (kanan) saat hendak memberikan cendramata kepada para pemateri. (POS KUPANG/GORDI DONOFAN)

Weraman menjelaskan, menurut penelitian sebelumnya pada tahun 2013, ada indeks klinis demografi, geografi dan klimatologi dan indeks klinis epidemiologi malaria kepulauan, bahwa ada 7 gejala dan tanda, yaitu menggigil, berkeringat, nyeri punggung/seluruh badan, mulut pahit, sakit tenggorokan, wajah pucat dan demam lama.

"Dari pemetaan endemisitas malaria di NTT, kita lihat masih banyak yang merah. Tapi dari Dinas Kesehatan Provinsi sudah berubah. Karena ini data pada dua tahun yang lalu," ujarnya.

Ia menambahkan, kader dapat diikutsertakan dalam penemuan kasus malaria, tetapi kesulitannya adalah dalam membedakan gejala utama maupun gejala lainnya yang lebih spesifik dalam membantu mendeteksi penyakit malaria sejak dini, sehingga dapat memberikan intervensi program yang tepat agar dapat menurunkan kasus malaria.

"Oleh karena itu, perlu dikembangkan indeks epidemiologi malaria di wilayah kepulauan di NTT," tutupnya Dr. Pius Weraman. (*).

Editor: agustinus_sape
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help