PosKupang/

Telur Ayam dan Rumah Pangan Kita

Kenaikan ini menimbulkan pertanyaan. Apa yang sedang terjadi? Apalagi kenaikan ini tanpa suatu peristiwa pemantik sepert

Telur Ayam dan Rumah Pangan Kita
Pos Kupang/Hermina Pello
Penjual telur ayam 

POS KUPANG.COM - Sejak tahun 2016 Bulog mencanangkan pembentukan Rumah Pangan Kita (RPK) untuk menstabilkan harga pangan. Juga perwujudan fungsi Bulog menyediakan bahan pangan yang terjangkau masyarakat.

Namun beberapa hari terakhir, warga NTT, khususnya Kupang, lebih khusus lagi ibu-ibu mulai kasak-kusuk tentang harga telur ayam yang merangkak naik. Saat ini harga telur Rp 53 ribu per papan dari sebelumnya Rp 40 ribuan. Harga di tingkat eceran di warung-warung sudah mencapai hingga Rp 2.000 per butir. Di pasar Rp 5.000 untuk tiga butir telur.

Kenaikan ini menimbulkan pertanyaan. Apa yang sedang terjadi? Apalagi kenaikan ini tanpa suatu peristiwa pemantik seperti lebaran atau perayaan Natal. Jika kenaikan itu terjadi di saat lebaran atau perayaan Natal, bisa jadi masyarakat mahfum adanya atau terjadi karena adanya bencana alam yang besar. Tapi ini seperti 'tiada angin, tiada hujan', tiba-tiba harga telur ayam melambung tinggi.

Terlebih sejak tahun lalu Bulog sudah menggulirkan program Rumah Pangan Kita (RPK). Tentu dengan harapan harga 11 komoditi yang ditangani Bulog termasuk gula, minyak goreng, telur, bawang merah, dan bawang putih lebih stabil.

Selain berperan menstabilkan harga, RPK berfungsi menyuplai kebutuhan pangan ke masyarakat. RPK juga dapat menekan harga komoditas utama penyebab inflasi.
Naiknya harga telur ayam 'tanpa penyebab' tentu menjadi pertanyaan, di mana peran RPK? RPK yang diharapkan mampu masuk hingga ke gang-gang dan pelosok ini, secara teoritis, maka akan mampu menahan kenaikan harga oleh pihak-pihak tertentu.

Sayangnya, peran ini masih lemah. Terbukti, harga telur yang menjulang. Entah apa penyebabnya. Apakah memang jumlah RPK yang masih kurang atau ada faktor lain.
Jika memang RPK berjalan sesuai dengan relnya, maka tak perlulah Bulog melakukan operasi pasar. Cukup mengoptimalkan gerak RPK, sudah pasti akan memberi dampak positif, tanpa harus membuat masyarakat antre panjang untuk mendapatkan barang seperti yang kerap kita lihat di setiap operasi pasar.

Jika memang RPK berjalan dengan semangat menstabilkan harga dan menyediakan bahan pangan yang terjangkau, maka tak akan ada lagi cerita-cerita tentang ibu-ibu yang kelimpungan karena harga telur ayam naik. Yang sedikit banyak memberikan efek domino.

Semoga RPK benar-benar berjalan di atas relnya. Bukan sebagai ajang untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompok karena harga jualnya ke konsumen (masyarakat) pun telah ditentukan Bulog. Tentu lebih murah dari harga di pasaran. Harga yang didapat lebih murah ini akan menggiurkan untuk memperoleh keuntungan, yang pada akhirnya memunculkan oknum-oknum. (*)

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help